Kumparan Logo

Hungaria Tutup Pembangkit Nuklir Imbas Gelombang Panas Bikin Sungai Mengering

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para jurnalis berdiri di depan struktur pengambilan air dan kanal air dingin Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Paks yang menggunakan air dari Sungai Danube di Paks, Hungaria, Jumat (31/7/2026). Foto: ATTILA KISBENEDEK/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Para jurnalis berdiri di depan struktur pengambilan air dan kanal air dingin Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Paks yang menggunakan air dari Sungai Danube di Paks, Hungaria, Jumat (31/7/2026). Foto: ATTILA KISBENEDEK/AFP

Hungaria akan menghentikan sementara operasional satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pada pekan depan imbas rendahnya debit air Sungai Danube akibat gelombang panas (heatwave) yang terus melanda kawasan Eropa Tengah.

Padahal PLTN yang berlokasi di Paks itu berkontribusi sekitar 40 persen dari total produksi listrik tahunan Hungaria. Namun penghentian sementara operasional PLTN tidak dapat dihindari, terlebih operator juga telah memperingatkan sebelumnya.

“Menurut perhitungan saat ini, penghentian operasi kemungkinan terjadi pada Selasa (4/8) atau Rabu (5/8),” kata Perdana Menteri Hungaria Peter Magyar dikutip dari France24, Sabtu (1/8).

Sebelum diberhentikan sementara pada pekan depan, kapasitas produksi pembangkit itu juga telah dikurangi dalam beberapa hari terakhir.

Permukaan air Sungai Danube di sejumlah wilayah telah mencapai titik terendah dalam sejarah imbas minimnya curah hujan dan adanya fenomena gelombang panas yang terjadi secara beruntun sejak Mei lalu.

Struktur pengambilan air dan kanal air dingin Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Paks yang menggunakan air dari Sungai Danube difoto di dekat Paks, Hungaria, Jumat (31/7/2026). Foto: ATTILA KISBENEDEK/AFP

Selain Hungaria, Rumania juga telah menghentikan operasional salah satu reaktor nuklirnya disebabkan oleh alasan serupa dan mengumumkan akan menutup reaktor kedua.

Penghentian operasional PLTN menjadi salah satu dampak dari cuaca panas ekstrem yang memecahkan rekor di kawasan Eropa. Sejumlah negara kini mengambil berbagai langkah untuk mengurangi risiko kebakaran juga menekan beban pada pasokan air dan jaringan energi.

Selain menghentikan sementara PLTN, pemerintah Hungaria juga meminta pelaku usaha mengurangi konsumsi listrik, melarang aktivitas pembakaran di ruang terbuka, dan mengimbau agar mematikan lampu hiasan di gedung-gedung pemerintah sebagai upaya penghematan energi.

Berdasarkan perhitungan ilmuwan data iklim Peter Szabo menggunakan data sementara angka kematian yang dirilis pemerintah, gelombang panas selama 12 hari yang melanda Hungaria pada akhir Juni diperkirakan menyebabkan sekitar 304 kematian berlebih (excess deaths).

Gambaran dasar sungai Danube yang mengering dengan pembangkit listrik Paks di latar belakang, dekat Dunaszentbenedek, dekat kota Paks, Hungaria, Jumat (31/7/2026). Foto: ATTILA KISBENEDEK/AFP

Di negara tetangganya, Slovakia, pemerintah kota Bratislava telah menyiapkan lebih dari 30 titik pendinginan yang menyediakan ruangan berpendingin udara dilengkapi air minum bagi masyarakat.

Sementara itu, badan prakiraan cuaca Slovenia memperingatkan wilayah barat negara tersebut akan menghadapi risiko kebakaran hutan yang sangat tinggi. Berbagai aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di kawasan tersebut akhirnya dilarang.

Ahli klimatologi melihat gelombang panas kali ini tergolong luar biasa bukan hanya karena suhu yang tinggi, tetapi juga karena berlangsung dalam waktu yang panjang.

Para ahli kelautan memperkirakan suhu air di pesisir Laut Adriatik, Slovenia, berpotensi melampaui rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 30,4 derajat Celsius yang tercatat pada 2010.

Austria juga mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang Juli pada Jumat (31/7), yaitu mencapai 40,3 derajat Celsius di Kota Wieselburg. Badan meteorologi nasional Geosphere Austria menyatakan negara tersebut saat ini tengah mengalami kekeringan ekstrem dengan curah hujan sejak awal tahun tercatat sekitar 30 persen lebih rendah dibandingkan rata-rata normal.