Kumparan Logo

I Nyoman Sungada, Pematung Pasir Andal dari The Hidden Beach

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
BNI membangun patung replika Garuda Wisnu berbahan dasar pasir di Pantai Pandawa, Kawasan Nusa Dua, Badung, Bali. Foto: Dok. BNI
zoom-in-whitePerbesar
BNI membangun patung replika Garuda Wisnu berbahan dasar pasir di Pantai Pandawa, Kawasan Nusa Dua, Badung, Bali. Foto: Dok. BNI

Patung lazimnya terbuat dari bahan kayu, batu, atau logam. Patung dari pasir masih relatif langka, apalagi di Indonesia. Tapi keterampilan itulah yang ditekuni I Nyoman Sungada, warga Desa Kutuh, Badung, Bali.

Lewat perjalanan panjang dan konsistensi berkesenian sebagai pematung, pada usia 60 tahun Nyoman membuat replika patung Garuda Wisnu berbahan pasir. Patung itu dia buat di Pantai Pandawa, Kabupaten Badung, Bali. Ini merupakan patung pasir terbesar di Indonesia, dan masih sangat langka di tanah air.

Menurutnya, patung replika Garuda Wisnu ini dibangun dari 2 ton pasir Pantai Pandawa hingga menjulang setinggi 14,1 meter; Panjang 18 meter; dan lebar 9 meter. Berdiri kokoh menyambut siapa saja yang baru tiba di Pantai Pandawa, yang lama tersembunyi hingga para wisatawan asing menyebutnya The Hidden Beach.

Patung pasir replika Garuda Wisnu ini, dibuat Nyoman bersama 20 pematung, 10 tukang kayu, dan 30 relawan lainnya. "Ini merupakan simbol harapan dan kebangkitan Bali yang terpuruk akibat lamanya Pandemi COVID-19," kata Nyoman.

Harapan itu kembali merekah, seiring event Road to Bali International Sand Sculpture Contest 2022, yang akan melibatkan para pematung dunia dalam kontes tersebut. Kiprah Nyoman di dunia internasional pun tak diragukan. Bahkan dia pernah menjuarai kontes patung salju.

Prestasi terbarunya antara lain menyabet juara kategori Best Skill dan pemenang kategori Excellent pada International Snow Sculpture Competition tahun 2020 di Harbin, China. Lalu menjadi juara 3 pada International Snow Sculpture Contest tahun 2013 di Sapporo, Jepang.

Area Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang sepi pengunjung di Badung, Bali, Sabtu (21/3/2020). Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

Awal Juli 2021 ini, boleh jadi menjadi puncak kebahagiaan I Nyoman Sungada dan para seniman Pecatu. Pasalnya, replika Garuda Wisnu yang mereka bangun selama 12 hari di bawah terik mentari, hingga sempat nyaris terkena halilintar, akhirnya rampung dibangun.

Tak kurang Gubernur Bali I Wayan Koster, hingga Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, Royke Tumilaar, memberi apresiasi. Tak hanya sekadar memuji, Royke malah lebih jauh melangkah. Royke mengalirkan dana CSR BNI pada Himpunan Seniman Pecatu, berupa bantuan mesin laser cutting dan komputer jinjing yang berkemampuan mendesain lebih canggih.

kumparan post embed

“Saya kaget. Ada perusahaan yang begitu memperhatikan pemahat seperti kami. Sebelum BNI tidak ada perusahaan yang membantu,” kenang Nyoman.

Bahagia dengan Hadiah Rp 10.000

Perjalanan hidup I Nyoman Sungada jadi pematung, terbilang melawan arus. Tempat kelahirannya Desa Kutuh, Badung, Bali, mayoritas penduduknya berporfesi sebagai nelayan. Tapi sejak kecil, Nyoman justru tertarik dengan seni pahat.

Saat duduk di kelas 3 SD, dia rela menahan lapar hanya untuk melihat seorang pemahat membuat ogoh-ogoh. Demi mengejar keahlian sesuai hobinya, dia pun tak surut untuk menyerap ilmu seni patung, bahkan hingga ke Ubud. Ketika usia belasan tahun, dia menghasilkan karya pahat pertamanya, yang kemudian dia jual ke Denpasar dengan harga Rp 10.000.

“Senang rasanya. Puas bisa menghasilkan sesuatu dari karya seni sendiri. Meskipun uang Rp 10.000 cukup besar waktu itu buat saya, namun bukan itu sumber kepuasan saya. Kebahagiannya adalah karena berhasil membuat hasil karya yang dilihat orang, dianggap menarik dan indah,” ujar I Nyoman Sungada.

Kini kepuasannya tak bisa lagi diukur dengan uang atau materi. Bentuk penghargaan seperti yang diberikan BNI terhadap karya patung pasirnya, adalah kepuasan yang berbeda bagi karya seni patungnya.