IEEFA: Bisnis Produsen Otomotif Jepang Hambat Ambisi Kendaraan Listrik RI
·waktu baca 3 menit

Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menilai ambisi pemerintah mendorong pengembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terhambat arah bisnis perusahaan Jepang yang menguasai pasar otomotif di Indonesia.
Dalam laporan terbarunya, IEEFA menganalisis tujuh perusahaan otomotif raksasa yang menguasai pasar Indonesia memiliki rencana elektrifikasi kendaraan yang lamban dan tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah.
Analis Energi IEEFA, Putra Adhiguna, mengatakan untuk kendaraan roda empat ringan, dia menyoroti lima produsen yang menguasai 92 persen pasar di dalam negeri yaitu Honda, Mitsubishi, Suzuki, Toyota dan anak perusahaannya Daihatsu.
"Para pemain otomotif banyak menekankan pentingnya memberi pilihan kendaraan bagi konsumen, namun opsi all-electric dari mereka hampir tidak bisa ditemukan," katanya dalam peluncuran laporan Electrifying Indonesia's Road Transport di Jakarta, Senin (6/2).
Putra melanjutkan, konsentrasi pasar kendaraan roda dua saat ini bahkan lebih kuat dengan Honda dan Yamaha menguasai 96 persen pasar. Namun rencana elektrifikasi kendaraan mereka sangat jauh dari potensi perusahaan-perusahaan tersebut.
Adapun selama tahun 2022, kata dia, kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) hanya mencakup 0,16 persen dari unit penjualan Toyota di seluruh dunia. Sementara penjualan motor listrik Honda lebih minim.
Di sisi lain, target pemerintah sangat agresif dengan 13 juta motor listrik dan 2,2 juta mobil listrik pada tahun 2030. Namun realisasinya masih tertinggal di belakang beberapa negara tetangga ASEAN lainnya.
Putra menuturkan, kompetisi industri EV Indonesia dengan Thailand semakin ketat sementara Vietnam telah lebih sukses mendorong penggunaan motor listrik di depan Indonesia.
Menurut Putra, mendorong penerapan standar fuel economy juga penting untuk menahan laju permintaan BBM dan menurunkan emisi karbon, namun ketidakhadirannya di Indonesia dapat mengindikasikan komitmen kebijakan yang masih ragu-ragu.
Tantangan Dominasi Pasar dan Dorongan Hybrid
Putra menjelaskan, kendaraan hybrid konvensional sudah dipasarkan lebih dari 20 tahun, sementara keuntungan penggunaan kendaraan plug-in hybrid akan sangat dipengaruhi perilaku penggunanya dalam mengisi-ulang baterai kendaraan.
"Pengalaman di beberapa pasar dunia menunjukkan bahwa keuntungan yang diklaim sering tidak sejalan dengan hasil uji lapangan, hal penting bagi pemerintah dalam mempertimbangkan pemberian dukungan,” ujarnya.
Meski rencana transisi para produsen otomotif raksasa lambat, mereka juga berpotensi membantu menurunkan ketergantungan sektor transportasi terhadap impor BBM. Untuk mendorong peralihan mereka, pemerintah dapat mempertimbangkan memfasilitasi melalui akses sumber daya dan kebijakan yang sesuai.
Putra menjelaskan, industri kendaraan roda empat dan roda dua di Indonesia beroperasi pada 48 persen dan 36 persen di bawah kapasitas produksi mereka. Hal ini juga memengaruhi ambisi kendaraan listrik.
“Dominasi dan arah dari raksasa otomotif yang ada tidak mungkin dikesampingkan dalam pembahasan ambisi EV Indonesia. Karenanya, dukungan terhadap EV harus dibarengi kebijakan tegas untuk menahan laju penggunaan BBM untuk ICEV dari berbagai arah," jelas Putra.
