IESR Sebut Kontribusi RI ke Energi Baru dan Terbarukan Global Masih Minim

24 Maret 2023 11:27 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ekonom Faisal Basri (kiri),  jurnalis dan pendiri Katadata Metta Dharmasaputra (kedua kiri), Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa (kanan) dalam diskusi di Katadata Insight Center, Jakarta Selatan, Jumat (4/10/2019). Foto: Muhammad Darisman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ekonom Faisal Basri (kiri), jurnalis dan pendiri Katadata Metta Dharmasaputra (kedua kiri), Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa (kanan) dalam diskusi di Katadata Insight Center, Jakarta Selatan, Jumat (4/10/2019). Foto: Muhammad Darisman/kumparan
ADVERTISEMENT
Institute for Essential Services Reform (IESR) menyebut kontribusi Indonesia di energi baru dan terbarukan atau EBT global masih belum maksimal. Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa, mengungkapkan energi terbarukan global tumbuh 295 gigawatt pada 2022 (GW) atau naik 10 persen dari 2021.
ADVERTISEMENT
Fabby menjelaskan dari 295 GW tersebut, pertumbuhan EBT terjadi di Asia sebesar 141 GW. Kenaikan kapasitas itu terjadi pada masa pandemi dan inflasi harga energi yang signifikan.
“Dari tadi 295 GW pertumbuhan kapasitas EBT, kira-kira separuh itu terjadi ada di Asia,” kata Fabby saat Peluncuran Laporan dan Platform LCOE dan LCOS, Jumat (24/3).
Namun, dari pertumbuhan 141 GW tersebut, Indonesia hanya berkontribusi sebesar 1 GW untuk perkembangan EBT. Padahal, kata Fabby, konsumsi listrik di Indonesia termasuk cukup tinggi.
“Tapi kalau kita lihat angkat ini 141 GW, Indonesia kalau kita lihat dari Kementerian ESDM tahun lalu hanya bertambah 1 GW saja. Dibandingkan 141 GW di Asia Pasifik atau kurang dari 0,5 persen. Padahal, konsumsi listrik negara cukup tinggi,” jelas Fabby.
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut, Fabby menjabarkan rata-rata pertumbuhan energi terbarukan di Tanah Air selama 5 tahun terakhir hanya berkisar di 400-500 Megawatt. Ia menilai capaian itu jauh dari komitmen pemerintah untuk meningkatkan EBT sebesar 2-3 GW per tahun.
Petugas PLN mengecek panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pulau Kodingareng, Kecamatan Sangkarrang, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (15/12/2022). Foto: Abriawan Abhe/ANTARA FOTO
Fabby memastikan potensi EBT di Indonesia, khususnya untuk energi surya sangat besar. Ia mendorong pemerintah bisa meningkatkan kapasitas energi terbarukan lebih cepat. Sehingga transisi itu dapat memberikan dampak sosial ekonomi yang besar bagi masyarakat.
“Kita berharap pada 2030 EBT di Indonesia dapat mencapai target yaitu 23 persen, dan kita bisa melihat energi seperti surya dan angin tumbuh lebih cepat, terutama untuk energi surya. Menurut kajian IESR, potensi energi surya di Indonesia bisa menghasilkan antara 3.600 GW sampai 20 ribu GW,” ujar Fabby.
ADVERTISEMENT