IHSG Anjlok 3,72 Persen Dipicu Kabar Revisi Metode Free Float MSCI
·waktu baca 3 menit

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok menjelang penutupan perdagangan sesi I hari ini, Senin (27/10). Pada pukul 11:05 WIB. IHSG terpantau merosot 307,31 poin (3,72 persen) ke 7.964,41.
Merosotnya IHSG terjadi di saat pasar Asia lagi hijau-hijaunya dengan kenaikan masih dipimpin indeks saham Nikkei, Jepang, 960 poin (1,95 persen) ke 50.260.
Analis Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan penurunan pasar saham salah satunya disebabkan adanya kabar dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang tengah mengkaji ulang perhitungan free float pada saham-saham di Indonesia.
"Market drop karena ada kabar penting dari MSCI yang lagi ngulik ulang cara mereka menghitung free float buat saham-saham Indonesia. Definisi free float bakal lebih ketat, jadi nanti yang dihitung cuma saham yang benar-benar bisa diperdagangkan bebas," jelasnya kepada kumparan, Senin (27/10).
Myrdal menjelaskan, saham yang termasuk dalam kategori 'corporates' atau 'others' akan dikeluarkan dari perhitungan. Selain itu, aturan pembulatan (rounding) juga akan diubah, yakni float besar (>25 persen) akan dibulatkan ke 2,5 persen terdekat, sementara float menengah (5–25 persen) dan dan float kecil (<5 persen) ke 0,5 persen.
"Artinya, saham dengan float kecil bisa kelihatan makin kecil lagi bobotnya di indeks," kata Myrdal.
Perhitungan free float dari MSCI menjadi lebih ketat ini, lanjut Myrdal, efek yang akan terjadi yakni bobot saham Indonesia di indeks MSCI bakal turun, serta Exchange Traded Fund (ETF) dan pendanaan asing yang mengikuti MSCI otomatis harus rebalance alias menjual sebagian posisi.
Dengan demikian, dia menilai akan terjadi potensi aliran modal asing keluar alias outflow yang semakin besar. Selain itu, aturan pembulatan yang baru juga bikin banyak saham kehilangan 'bonus' bobot yang sebelumnya menguntungkan.
"Singkatnya, aturan baru MSCI maka potensi tekanan jual dari investor asing. Makanya, wajar kalau IHSG agak goyah beberapa hari ini karena pasar lagi antisipasi efeknya," ungkap Myrdal.
Di sisi lain, Myrdal juga melihat adanya tekanan jual atau profit taking di akhir bulan dari para investor saham. Mayoritas adalah saham-saham konglomerasi yang harganya sudah terlalu tinggi.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan terdapat beberapa faktor yang memengaruhi pelemahan IHSG. Dari eksternal, masih panasnya dinamika perang tarif antara AS dan China.
"Sentimen global lainnya adalah masih berkaitan dengan tekanan inflasi. Jadi tekanan inflasi dari Amerika Serikat, kita tahu bahwasannya di US CPI pun juga naik dari 2,9 persen ke 3,0 persen," tutur Nafan.
Selain itu, Nafan juga menilai para investor tengah menantikan rencana rebalancing MSCI yang menyebabkan pelemahan harga saham emiten-emiten konglomerasi.
"Sepertinya ini terjadi penyesuaian metodologi pada metodologi MSCI terhadap perhitungan free float saham Indonesia. Bahkan MSCI juga mengumumkan mereka melakukan konsultasi dengan metode perhitungan free float untuk para konstituen saham di Indonesia," kata Nafan.
MSCI, kata Nafan, akan menerima masukan dari para pelaku pasar hingga akhir Desember 2025. Menurutnya, hal ini bisa memberikan kepastian bagi para pelaku pasar karena berkaitan dengan perbedaan metodologi free float agar persepsinya dapat disamakan.
"Kalau masih belum bisa disamakan, tentunya tadi saham-saham mengalami penurunan, misalnya karena terjadi outflow. Takutnya ada risiko dikeluarkan dari MSCI Index. Kalau bisa keluar, outflow asing keluar, berarti bobotnya jadi turun," kata Nafan.
