IHSG Anjlok, Danantara Justru Lirik Peluang Investasi

CEO BPI Danantara Rosan Roeslani menilai penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi peluang investasi jangka panjang di pasar modal Indonesia. Menurutnya, koreksi pasar membuat valuasi sejumlah perusahaan yang tercatat di bursa, termasuk BUMN, berada pada level rendah.
Perdagangan saham sempat mengalami trading halt setelah IHSG merosot 8 persen pada awal perdagangan, Jumat (16/10). IHSG lanjut ditutup anjlok 630,78 poin atau 10,76 persen ke level 5.233 pada akhir perdagangan sesi I.
Rosan memandang kondisi tersebut sebagai kesempatan untuk berinvestasi karena pihaknya berorientasi pada investasi jangka panjang, bukan sekadar masuk dan keluar pasar dalam waktu singkat.
“Justru kami melihatnya ini adalah suatu opportunity ke depannya, karena tentunya kami sebagai Danantara selalu melihat investasi itu sebagai long term investment bukan sebagai investor in and out,” ujar Rosan kepada wartawan di gedung BEI, Jakarta, Jumat (16/10).
Rosan yakin fundamental perusahaan-perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih kuat. Ia mencontohkan sektor perbankan yang dinilai solid, meski valuasinya berada di bawah rata-rata perusahaan sejenis.
“Contohnya dari sektor perbankan kita sangat baik, solid tapi valuasinya mungkin di bawah one time price to book value dan ini di bawah average dari median valuasi di peers-nya, di industrinya,” jelas Rosan.
Selain perbankan, Rosan melihat peluang investasi juga terdapat pada sektor infrastruktur dan telekomunikasi. Danantara, kata dia, terbuka untuk masuk ke pasar modal Indonesia bersama ekosistem investasi yang dimilikinya.
Rosan juga menilai pelemahan pasar saham saat ini lebih dipengaruhi faktor teknis dan sentimen pasar ketimbang persoalan fundamental perusahaan.
“Kalau kami melihatnya ini bukan karena soal fundamental tapi ini lebih soal technical, rumors di market dan juga lebih ke soal non-fundamental,” ungkap Rosan.
