IHSG Bakal Lebih Wajar Usai Saham HSC Dikeluarkan? Ini Kata Analis

Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan seluruh saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai sebagai langkah positif untuk meningkatkan kualitas indeks.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta menilai, kebijakan baru yang diambil BEI ini merupakan bagian dari pembenahan struktural pasar modal tanah air, terutama untuk meningkatkan transparansi dan memastikan IHSG lebih mencerminkan kondisi pasar yang representatif.
“Langkah ini juga relevan di tengah sorotan MSCI terhadap aspek investabilitas, transparansi kepemilikan saham, dan ketersediaan saham yang benar-benar dapat diperdagangkan oleh investor publik,” kata Nafan kepada kumparan, Selasa (20/10).
Meski demikian, Nafan menilai pengeluaran saham HSC dari perhitungan IHSG tak otomatis membuat harga saham menjadi lebih wajar. Kewajaran harga tetap bergantung pada mekanisme penawaran dan permintaan, likuiditas, keterbukaan informasi, serta efektivitas pengawasan dan penegakan aturan.
“Oleh karena itu, kebijakan ini perlu diiringi dengan peningkatan free float, transparansi pemegang saham, dan pengawasan terhadap potensi manipulasi pasar,” ujarnya.
Dari sisi risiko, Nafan memperkirakan kebijakan ini berpotensi meningkatkan volatilitas dalam jangka pendek karena investor perlu menyesuaikan ekspektasi dan strategi investasinya terhadap metodologi indeks yang baru.
Terkait peluang RI mempertahankan status emerging market, Nafan menilai kebijakan tersebut bisa jadi sinyal positif bagi MSCI bahwa otoritas pasar modal serius menjalankan reformasi.
“Jika reformasi dijalankan secara konsisten dan memenuhi ekspektasi MSCI, peluang Indonesia untuk mempertahankan status emerging market dapat meningkat, meskipun keputusan akhirnya tetap berada di tangan MSCI,” lanjut Nafan.
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai keputusan BEI sudah tepat, tetapi belum cukup untuk membenahi persoalan mendasar pasar modal.
Menurut Hendra, pengeluaran saham HSC berpotensi membuat IHSG lebih mencerminkan saham-saham yang likuid dan memiliki kepemilikan lebih tersebar.
“Perubahan ini hanya memutus penularannya ke papan skor IHSG. Penyakitnya sendiri, yakni kepemilikan yang terkonsentrasi dan dugaan perdagangan terkoordinasi, baru terobati bila ditopang penegakan hukum yang tegas dan aturan free float yang lebih ketat,” ujar Hendra.
Kata Hendra, ada risiko perbaikan yang hanya terlihat pada pergerakan indeks, sementara persoalan mendasar di pasar tidak mengalami perubahan.
Sebelumnya, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan terdapat 80 saham yang masuk kategori HSC berdasarkan data hingga 13 Oktober 2026. Saham-saham tersebut akan dikeluarkan dari perhitungan IHSG, tetapi tetap dapat diperdagangkan di bursa.
Jeffrey menjelaskan, kebijakan ini bertujuan memberikan gambaran pergerakan IHSG yang lebih wajar. Saat ini, saham-saham HSC mencakup sekitar 18 persen dari IHSG. Saham HSC sebelumnya juga telah dikeluarkan dari sejumlah indeks unggulan BEI, seperti IDX30, LQ45, dan IDX80.
