Kumparan Logo

IHSG Dibayangi Potensi Koreksi, Investor Tunggu Data Ekonomi RI

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (20/10/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (20/10/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi bergerak sideways dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (5/11). Pergerakan indeks masih dibayangi sejumlah sentimen, mulai dari kondisi pasar global, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga ketidakpastian di pasar domestik.

Sebelumnya, IHSG ditutup menguat 15,48 poin atau naik tipis 0,32 persen ke level 4.919,77 pada perdagangan Rabu (4/11).

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal pergerakan IHSG tengah membentuk pola dead cat bounce setelah sebelumnya menunjukkan pola bullish pin bar. Kondisi tersebut menunjukkan IHSG berada di antara fase pemulihan atau rebound dan potensi penurunan lanjutan breakdown.

“Kedua indikator Stochastics K_D dan RSI memberikan sinyal negatif, sementara volume perdagangan mengalami penurunan,” kata Nafan dalam keterangan tertulisnya, Kamis (5/11).

Nafan menilai dari sisi global, pergerakan bursa saham Wall Street menunjukkan sentimen pasar mulai membaik setelah hasil pemilu sela Amerika Serikat memberikan kejelasan terhadap arah politik dan kebijakan pemerintahan ke depan. Kemenangan Partai Demokrat yang menguasai mayoritas kursi di Senat dan House of Representatives berpotensi membatasi ruang gerak Presiden Donald Trump dalam menjalankan agenda legislasi, termasuk kebijakan fiskal, perdagangan, dan belanja pemerintah.

Namun, dari perspektif pasar modal, kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi ketidakpastian politik yang selama ini menjadi salah satu pertimbangan investor dalam mengambil keputusan.

Sentimen positif dari Wall Street juga berpotensi memberikan efek psikologis terhadap perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), terutama melalui meningkatnya kepercayaan investor dan peluang membaiknya risk appetite terhadap pasar negara berkembang. Meski demikian, dampaknya terhadap IHSG diperkirakan belum terlalu signifikan.

Sejumlah sentimen domestik juga masih membayangi pasar, seperti ketidakpastian terkait MSCI, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, risiko arus keluar modal asing, serta persepsi risiko investasi di Indonesia.

Investor juga akan mencermati langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI dalam meningkatkan transparansi kepemilikan saham, memperbaiki kualitas free float, serta memperkuat pengawasan terhadap praktik manipulasi perdagangan. Perkembangan kasus dugaan penyadapan ilegal yang melibatkan sejumlah perwira tinggi Polri juga berpotensi meningkatkan persepsi risiko politik dan tata kelola pemerintahan.

Nilai tukar rupiah turut menjadi salah satu faktor yang membayangi laju IHSG. Rupiah tercatat melemah 0,04 persen ke level Rp 18.168 per dolar AS. Meski ditopang surplus neraca perdagangan, tekanan terhadap mata uang domestik masih membatasi agresivitas aksi beli investor asing.

Pelaku pasar juga menanti rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2026. Konsensus memperkirakan ekonomi tumbuh sekitar 5,2 persen secara tahunan (year on year/YoY), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,29 persen YoY.

Proyeksi tersebut mencerminkan momentum pemulihan ekonomi domestik yang dinilai belum merata. Konsumsi rumah tangga masih menghadapi tekanan daya beli, sementara aktivitas investasi dan sejumlah sektor produktif belum menunjukkan akselerasi yang kuat.

Namun, jika pertumbuhan ekonomi kuartal III lebih baik dari konsensus pasar, kondisi tersebut berpotensi menjadi sentimen positif dan menahan IHSG dari tekanan eksternal.

Untuk perdagangan hari ini, Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan saham ANTM, BRIS, dan INDF.

Sementara itu, MNC Sekuritas menilai pergerakan IHSG secara intraday cenderung sideways dan telah mencapai target koreksi minimal sebelumnya. Posisi IHSG masih berada pada bagian dari wave (v) dari wave [v]. Investor dapat mencermati potensi koreksi lanjutan ke area 4.763-4.807.

Adapun level support IHSG berada di 4.847 dan 4.763, sedangkan level resistance berada di 5.143 dan 5.247.

MNC Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati, yakni CPIN, ENRG, ICBP, dan UNVR.

-

Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual produk investasi tertentu.

instagram embed