Kumparan Logo

IHSG Dibuka Anjlok 2,02%, Analis Sebut Saham Konglomerat Masih Jadi Beban

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di zona merah pada pembukaan perdagangan Jumat (22/5). Berdasarkan data Stockbit pukul 09.02 WIB, IHSG dibuka anjlok 2,02 persen atau turun 122 poin ke level 5.972.

Data transaksi awal menunjukkan volume perdagangan mencapai 909,69 juta saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 489,02 miliar dan frekuensi sebanyak 63,92 ribu kali.

Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, menilai level psikologis IHSG di area 6.000 hingga 5.000 menjadi perhatian utama pelaku pasar saat ini.

“Itu 6.000 ke 5.000 tuh psikologis banget sih. Jadi, terlepas dari bagaimana sentimen-sentimen negatif atau positif yang beredar, saya pikir pada titik ini level 6.000 itu bakal kuat untuk bisa ditembus gitu loh,” ujar Teguh kepada kumparan, Jumat (22/5).

Teguh menilai peluang IHSG untuk kembali menguat dalam jangka pendek masih cukup berat karena tekanan dari saham-saham konglomerasi yang selama ini menjadi penopang indeks.

“Tapi, apakah kemudian pasar masih bisa naik lagi? Ya, itu agak berat juga,” katanya.

Warga mengamati grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melalui ponsel pintar di Jakarta, Senin (18/5/2026). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Menurut dia, sejumlah saham konglomerasi seperti BREN, DSSA, dan TPIA masih berpotensi mengalami tekanan lebih dalam setelah dikeluarkan dari indeks MSCI.

“Sehingga asing, ya, kalau ada pegang saham-saham tersebut, itu akan jualan terus. Mereka nggak peduli posisinya untung atau rugi, mereka akan jualan terus,” lanjut Teguh.

Katanya, tekanan terhadap saham-saham konglomerasi masih bisa berlanjut meski harganya sudah turun cukup dalam.

“Dan itu artinya tetap ada kemungkinan saham-saham konglo itu tadi, meskipun udah turun dalam, tapi masih bisa turun lebih dalam lagi. Masih bisa turun lebih dalam lagi, karena market cap mereka masih gede sebenernya,” katanya.

Meski IHSG masih berpotensi melemah, Teguh memperkirakan area 5.800 hingga 5.900 menjadi batas bawah yang cukup kuat.

“IHSG mungkin masih akan turun, tapi 5.800–5.900 itu udah mentok banget itu. Nggak akan turun lebih dalam lagi. Ini kalau saham-saham konglo ini lanjut turun, ya,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi pasar saham saat ini justru membuka peluang bagi investor jangka panjang karena valuasi saham-saham fundamental dinilai sudah sangat murah.

Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO

Di sisi lain, emiten sektor perbankan dan komoditas berpotensi menjadi penopang pasar saham ke depan.

“Yang pertama itu banking, kemudian sektor komoditas. Komoditas, ya, sekarang ini harga-harga komoditas itu mulai naik lagi,” kata ia.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta menilai volatilitas IHSG masih akan tinggi dalam waktu dekat akibat kombinasi sentimen domestik dan global.

“Di sini menurut saya terdapatnya sentimen seperti pelemahan oleh tukar rupiah terdepresiasi, 17.600-an saat ini. Di sisi lain, hal ini juga dipengaruhi oleh kenaikan BI rate yang secara agresif,” ujar Nafan.

Selain pelemahan rupiah, pasar juga masih dibayangi efek rebalancing indeks global MSCI pada akhir Mei 2026.

“Di sisi lain juga ada efek rebalancing indeks global seperti MSCI di akhir bulan Mei,” katanya.

Meski begitu, Nafan menilai IHSG saat ini sebenarnya sudah berada di level undervalued sehingga membuka peluang akumulasi beli secara bertahap.