IHSG Diprediksi Masih Akan Tertekan

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 2,03 persen di level 5.702,82 pada perdagangan Kamis (11/10). Menurut Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper, pelemahan tersebut disebabkan oleh panic selling sejak awal pembukaan perdagangan, setelah bursa Amerika juga ditutup anjlok 3,15 persen.
IHSG diprediksi akan melanjutkan pelemahan hari ini. IHSG diprediksi akan bergerak di level support 5.628 dan resistance 5.782 sepanjang perdagangan saham hari ini.
“IHSG diprediksi melemah. Secara global indeks bergerak melemah sehingga secara psikologis masih akan mempengaruhi investor dan akan menekan pergerakan IHSG,” tulis Dennies dalam risetnya, Jumat (12/10).
Meski demikian, menurut Dennies, adanya pelemahan harga minyak dan nilai tukar rupiah yang lebih stabil diharapkan dapat menopang pergerakan sehingga pelemahan diprediksi mulai terbatas.
“Selain itu secara teknikal pergerakan IHSG tertahan di sekitar area support bollinger band yang juga mengindikasikan pelemahan sudah terbatas,” sambungnya.

Sementara itu, Vice President Research Departement Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya menyatakan, IHSG masih berpotensi untuk melaju di zona hijau.
“Peluang penguatan masih terlihat cukup besar dalam pergerakan IHSG hingga saat ini, tekanan dan koreksi terlihat masih berada dalam tahap wajar,” ujar William.
Menurutnya, pola pergerakan IHSG masih berada dalam pola uptrend jangka panjang. Selain itu, rilis data perekonomian hingga saat ini juga masih dinilai cukup baik bahkan menunjukkan fundamental perekonomian yang cukup kuat.
“Hal tersebut dapat menjadi penopang dari pergerakan IHSG, hari ini IHSG berpotensi menguat,” ujarnya.
Berikut beberapa menu saham unggulan yang direkomendasikan William: PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Pembangunan Timur Tbk (BJTM), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL), dan PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB), PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON).
