Kumparan Logo

IHSG Diprediksi Merah, Investor Wait and See Imbas Rupiah Melemah

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Layar menampilkan pergerakan indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (14/12/2021). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Layar menampilkan pergerakan indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (14/12/2021). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan Kamis (20/6). Pada perdagangan Rabu (19/6), IHSG ditutup melemah 7,909 poin atau 0,12 persen ke level 6.726,920.

Analis Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan, mengatakan IHSG masih berpeluang uji 6.700 dengan critical support level berikutnya di 6.650. Sejumlah sentimen positif belum mampu memicu pembalikan arah IHSG.

“Kondisi nilai tukar Rupiah masih menjadi pemberat IHSG untuk keluar tekanan jual,” kata Valdy, Kamis (20/6).

Sentimen dari global yaitu peluang pemangkasan suku bunga acuan the Fed di September 2024. Spekulasi pemangkasan suku bunga acuan BoE dalam waktu dekat dan kenaikan nilai ekspor Indonesia sebesar 2,86 persen yoy di Mei 2024.

Sejumlah isu domestik, terutama terkait dengan nilai tukar rupiah menekan IHSG. Pertama, adanya kekhawatiran mengenai kenaikan defisit anggaran pada APBN 2024 seiring dengan pelemahan nilai tukar Rupiah saat ini dan sejumlah program prioritas di 2024.

“Kedua adalah wacana kenaikan harga minyak goreng rakyat (MinyaKita) sebagai salah satu dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah,” ujar Valdy.

Faktor kedua berpotensi memicu kenaikan inflasi yang bisa berdampak pada pelemahan laju pertumbuhan ekonomi di semester 2 2024.

Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas, Jakarta, Senin (6/9). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Senada, Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance di level 6.700–6.800. Potensi penguatan masih terlihat, namun akan tipis.

Menurut Pilarmas Investindo Sekuritas, pelemahan rupiah ini tentu berdampak pada defisit APBN di mana nilai dolar pada APBN hanya sebesar Rp 15.000 per dolar. Artinya, selisihnya nanti menjadi defisit anggaran APBN sehingga tentu akan semakin memberi beban untuk kelanjutan proyek strategis nasional.

“Pelemahan rupiah ini semakin membuat para investor asing cukup senang namun kami menilai pada pasar modal, para investor asing masih melakukan wait and see terkait dengan adanya kebijakan baru,” tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya.

Para investor asing saat ini lebih memilih berinvestasi di valas dengan mata uang dolarnya. Sebetulnya, beberapa upaya telah dilakukan Bank Indonesia, seperti menaikkan suku bunga, akan tetapi hal ini dinilai tidak efektif sebab pelemahan rupiah malah terus terjadi.

Top picks saham dari Valdy antara lain TLKM, INCO, ELSA, INTP dan ACES. Sedangkan rekomendasi saham dari Pilarmas Investindo Sekuritas yaitu BRIS, BFIN dan EXCL.

****

Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual suatu produk investasi tertentu.

instagram embed