IHSG Diproyeksi Melemah, Investor Cermati Sentimen Global dan Saham Konglomerasi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak melemah di rentang level 5.851 hingga 5.647 pada perdagangan Selasa, (13/10).
Sebelumnya pada Senin, (12/10), IHSG ditutup anjlok 157,61 poin atau 2,59 persen ke posisi 5.936,15.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai IHSG masih menghadapi tekanan berat, meskipun peluang pemulihan teknikal (technical rebound) secara terbatas tetap terbuka.
“Secara teknikal, fase limited downside mulai terbuka lebar mengingat pergerakan IHSG sedang berada pada bagian dari wave (X) dengan support terkritis pada level 5.851,” ujar Nafan.
Berdasarkan indikator teknikal, Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif, sedangkan Relative Strength Index (RSI) masih memberikan sinyal positif yang didukung peningkatan volume perdagangan.
Nafan menilai sentimen pasar cenderung negatif dengan volatilitas tinggi. Peluang pemulihan indeks masih ada setelah tekanan jual yang cukup tajam, tetapi belum cukup kuat untuk mengkonfirmasi pembalikan tren.
Tekanan terhadap IHSG salah satunya dipicu oleh aksi jual saham-saham grup konglomerasi besar di tengah spekulasi mengenai kemungkinan penyesuaian bobot (rebalancing) atau sanksi dari indeks MSCI. Pelemahan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp 17.913 per dolar AS turut menambah beban bursa.
“Oleh sebab itu, kepercayaan investor terhadap stabilitas kebijakan ekonomi dan konsistensi reformasi pasar modal masih menjadi faktor penting, terutama ketika IHSG mengalami tekanan dan investor cenderung mengurangi eksposur terhadap saham berisiko tinggi,” jelas Nafan.
Dari sisi eksternal, investor global mencermati data inflasi Amerika Serikat (AS) serta laporan keuangan perusahaan kuartal III-2026. Pergerakan bursa AS yang bervariasi menunjukkan bahwa pelaku pasar belum memiliki keyakinan yang cukup kuat untuk mendorong reli secara merata karena masih mempertimbangkan prospek pertumbuhan laba korporasi, tekanan inflasi, harga energi, dan arah kebijakan moneter The Fed.
Kenaikan harga minyak Brent sebesar 2,41 persen ke posisi USD 106,05 per barel pada penutupan Senin juga menjadi perhatian. Hal tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi dan transportasi perusahaan, menekan daya beli konsumen, serta memperlambat proses disinflasi.
Sementara dari dalam negeri, rencana Danantara menambah investasi sekitar USD 1 miliar di pasar saham hingga akhir 2026 berpotensi menjadi sentimen positif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai fundamental sektor jasa keuangan Indonesia masih relatif solid, dengan inflasi domestik yang terjaga dan konsumsi masyarakat yang tetap menopang perekonomian.
“Namun, ketahanan fundamental tersebut belum tentu langsung tercermin pada harga saham dalam jangka pendek ketika tekanan pasar dan ketidakpastian global masih dominan,” ujar Nafan.
Adapun saham-saham yang direkomendasikan Mirae Asset Sekuritas pada Selasa, (13/10), meliputi BBRI, BNGA, dan CPIN.
Sementara itu, MNC Sekuritas juga memproyeksikan IHSG pada Selasa, (13/10), berpotensi melemah ke area level 5.850 hingga 5.911.
“Saat ini posisi IHSG sedang berada pada bagian dari wave v dari wave c dari wave [y] pada label hitam, sehingga pergerakannya rawan melanjutkan koreksi ke rentang 5.850 hingga 5.911,” tulis MNC Sekuritas dalam keterangannya.
Adapun saham-saham pilihan MNC Sekuritas pada Selasa, (13/10), mencakup BRMS, JPFA, MBMA, ANTM, dan XISI.
-
Disclaimer:
Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual suatu produk investasi tertentu.
