IHSG Ditutup Anjlok 1,51%, Penerapan Harga Saham Rp 1 Disebut Ikut Jadi Pemicu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,51 persen atau 94,033 poin ke level 6.147,859 pada perdagangan Senin (28/9) ini. Pemberlakuan batas minimum harga saham Rp 1 yang menggantikan batas Rp 50 disebut menjadi salah satu faktornya.
Analis Panin Sekuritas, Sarkia Adelia Lukman, menjelaskan aturan tersebut langsung memberi tekanan, terutama pada saham-saham yang sebelumnya tertahan di level Rp 50 per lembar.
"Ini [kebijakan saham Rp 1] jadi salah satu alasannya [melemah]. Terutama karena beberapa saham yang sebelumnya tertahan di level Rp 50 langsung mengalami price discovery setelah aturan tersebut berlaku," kata Sarkia kepada kumparan, Senin (28/9).
Saham yang paling terdampak adalah GOTO, yang turun ke level auto reject bawah (ARB) Rp 43 per lembar. Menurut Sarkia, GOTO menjadi salah satu pemberat utama IHSG karena kapitalisasi pasarnya relatif besar.
Namun, ada faktor lain yang ikut menekan indeks, salah satunya sentimen geopolitik terkait Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Sarkia menilai tekanan dari aturan harga saham Rp 1 hanya bersifat sementara, sedangkan sentimen geopolitik menjadi faktor jangka menengah yang perlu dicermati.
"Sentimen eksternal juga masih membayangi market, di mana tensi geopolitik AS-Iran masih tinggi dan memberi spillover effect ke pasar domestik...butuh waktu recovery jika eskalasi geopolitik ini terus berlanjut," ujarnya.
Sementara itu analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, juga menilai pelemahan IHSG selaras dengan implementasi aturan Rp 1, meski pergerakan indeks turut dibebani emiten berkapitalisasi besar (big caps).
"Kami perkirakan implementasi Rp 1 ini memang sedikit banyak berpengaruh, namun hari ini pergerakan IHSG juga dibebani oleh emiten-emiten big caps," ujarnya.
Selain itu, Herditya menyebut faktor geopolitik dan nilai tukar rupiah turut memengaruhi pasar.
"Pergerakannya memang masih berada di fase downtrend-nya dan saat ini sudah menutup area gap-nya. Dari sentimen, tekanan global belum mereda, di mana negosiasi AS-Iran belum menemui jalan tengahnya, kemudian dari sisi nilai tukar rupiah juga masih terdepresiasi terhadap USD," tegas Herditya.
Di sisi lain Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan pelemahan IHSG hari ini tidak semata-mata disebabkan oleh penerapan batas harga minimum baru.
Jeffrey menjelaskan, saham-saham yang berada di level Rp 50 memiliki bobot yang relatif kecil terhadap pergerakan IHSG.
