IHSG Ditutup Menguat 1,04% Usai Anjlok, Sinyal Pemulihan atau Sekadar Rebound?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi menguat terbatas pada perdagangan pekan depan, Senin (12/10/2026). Meski berpeluang melanjutkan penguatan setelah mengalami pemulihan pada perdagangan Jumat (9/10), pergerakan indeks masih dibayangi sejumlah risiko dari dalam dan luar negeri. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai penguatan IHSG sebesar 1,04 persen ke level 6.093,759 pada perdagangan Jumat (9/10) mengindikasikan terjadinya technical rebound atau pemulihan sementara setelah indeks terkoreksi cukup dalam pada perdagangan sebelumnya. Sebelumnya, pada Kamis (8/10), IHSG melemah 1,88 persen ke level 6.031,28 akibat tekanan jual yang cukup signifikan. “Koreksi tersebut membuka peluang bagi investor untuk melakukan buy on weakness, yakni membeli saham ketika harganya melemah, terutama pada emiten yang dinilai memiliki prospek fundamental baik dan valuasi menarik,” kata Nafan kepada kumparan, Sabtu (10/10). Meski demikian, Nafan menilai penguatan tersebut belum cukup untuk mengonfirmasi pembalikan tren menuju penguatan yang berkelanjutan. Pergerakan IHSG masih perlu didukung oleh arus beli yang konsisten, peningkatan volume transaksi, serta kemampuan indeks bertahan di atas level support terdekat. Pelaku pasar juga perlu mencermati sejumlah faktor eksternal, mulai dari arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga harga minyak dunia di tengah ketidakpastian geopolitik. Dari dalam negeri, perkembangan daya beli masyarakat dan data penjualan ritel turut menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi dan kinerja emiten. Sementara itu, Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan IHSG masih berpeluang menguat pada awal pekan depan, meskipun kenaikannya cenderung terbatas. Menurut Ibrahim, salah satu faktor yang dapat menopang pergerakan pasar saham adalah defisit anggaran pemerintah pada September 2026 yang masih sesuai dengan ekspektasi, meskipun mengalami kenaikan. Di sisi lain, meski indeks keyakinan konsumen mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, Ibrahim menilai fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup baik. Namun, kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi mendorong harga berbagai kebutuhan di dalam negeri dan meningkatkan tekanan inflasi. “Nah ini yang kemungkinan besar ada sedikit yang akan menahan laju penguatan terhadap indeks harga saham gabungan,” kata Ibrahim Dari sisi global, Ibrahim menyoroti kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada Oktober 2026. Namun, ketidakpastian geopolitik masih perlu diwaspadai karena berpotensi mempengaruhi pergerakan pasar keuangan. “Tetapi kemungkinan dampaknya bukan di hari Senin, kemungkinan di hari Selasa dan Rabu,” ujar Ibrahim. Di tengah proyeksi peluang penguatan IHSG tersebut, Ibrahim justru memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi bergerak berlawanan arah atau melemah. “Rupiah yang melemah, kemudian IHSG kemungkinan menguat, tetapi penguatannya terbatas,” pungkas Ibrahim.
