IHSG Menguat di Awal Bulan, Akankah Mitos September Effect Masih Berlaku?

Fenomena September Effect kembali menjadi perhatian di pasar saham Indonesia. Bulan September kerap dikaitkan dengan kinerja bursa yang cenderung lemah.
Meski demikian secara historis, data Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 3 tahun terakhir menunjukkan pola yang tidak sepenuhnya konsisten dengan teori September Effect. Sepanjang September 2023, IHSG naik tipis 0,19%. Pada September 2024 melemah 1,3%, namun pada September 2025 menguat 2,9%.
Memasuki September 2026, pergerakan IHSG menguat pada awal perdagangan. Pada 1 September 2026, IHSG dibuka di level 6.540,925 atau menguat 0,24 persen di tengah pelemahan sejumlah bursa Asia. Sehari setelahnya, pada 2 September 2026, IHSG dibuka lebih tinggi di level 6.625,39, naik 0,39 persen dari posisi pembukaan sebelumnya.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual menilai pergerakan IHSG sepanjang September tetap akan banyak dipengaruhi kondisi eksternal. Menurutnya, tekanan terhadap pasar global mulai terlihat dari kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury dan meningkatnya risiko geopolitik.
"Memang dari minggu lalu agak positif, tapi memang tadi malam ada beberapa berita yang relatif negatif. Mungkin hari ini juga bursa ini akan terpengaruh, karena kita lihat dari tadi malam memang pasar di Amerika juga turun,” kata David saat dihubungi kumparan, Rabu (2/9).
David menyoroti kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun yang telah berada di sekitar 4,8 persen sebagai faktor yang perlu diwaspadai investor.
"Banyak negara juga naik, dalam 10 tahun saja sudah 4,8 kalau di Amerika,” ujarnya.
Selain faktor pasar obligasi, eskalasi konflik di Iran dan kenaikan harga minyak turut menjadi perhatian. Menurut David, faktor eksternal masih lebih dominan memengaruhi pergerakan IHSG dibandingkan faktor domestik.
"Paling kuat sih dominan dari eksternal, kalau menurut saya. Kalau dari domestik, kalau ada berita-berita baru, kemarin inflasi juga sedikit lebih tinggi dari perkiraan,” terangnya.
Meski demikian, ia menilai pola musiman seperti September Effect maupun January Effect tidak selalu menjadi penentu arah pasar.
Mengenai pergerakan jangka pendek, David memperkirakan IHSG masih akan bergerak pada rentang 6.000-6.600, terutama menjelang keputusan bank sentral AS.
Senada, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai terlalu dini untuk menyimpulkan September Effect tidak akan terjadi tahun ini hanya berdasarkan pergerakan IHSG di awal bulan.
"Apalagi di bulan ini banyak cerita yang harus kita saksikan, mulai dari pertemuan The Fed, ECB, hingga beragam data inflasi serta ketidakpastian geopolitik antara Amerika dan Iran,” ujar Nico kepada kumparan.
Menurut Nico, kondisi ekonomi Indonesia sejauh ini masih relatif stabil di tengah tekanan global, ditambah mulai kembalinya arus modal asing (capital inflow) ke pasar domestik.
"Hal ini yang kami melihat merupakan salah satu sentimen yang positif bagi pelaku pasar dan investor. Karena perlahan dan pasti, IHSG mulai kembali merangkak naik," ucapnya.
Nico menegaskan pola historis seperti September Effect tidak seharusnya menjadi satu-satunya acuan investor dalam mengambil keputusan, karena pasar tetap punya ruang optimisme selama kebijakan dan sentimen yang berkembang mendukung.
IHSG Berpotensi ke 6.780
Dari sisi teknikal, Nico justru melihat peluang penguatan IHSG pada September 2026. Ia menilai tren kenaikan sebelumnya masih memberi ruang bagi indeks untuk melanjutkan penguatan, selama level support tidak tertembus.
"Terutama setelah sebelumnya secara konsisten terus mengalami kenaikan. Sekalipun mengalami koreksi, namun tidak melewati level support yang ada. Secara rentang, IHSG akan bermain di 6.510-6.640,” kata Nico.
Ia bahkan memperkirakan IHSG berpeluang mencapai level 6.780 pada September 2026. "Secara probabilitas, kami melihat IHSG berpotensi untuk mencapai 6.780 dengan tingkat probabilitas sebesar 47%,” tuturnya.
