IHSG Sesi I Merosot ke 5.000-an, Asing Masih Lepas Saham Kapitalisasi Jumbo

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada perdagangan sesi pertama, Senin (12/10). Berdasarkan data RTI Business, IHSG turun 117,979 poin atau 1,94 persen ke level 5.975,780.
Pelemahan terjadi setelah IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.128,72 pada awal perdagangan. Indeks kemudian bergerak turun hingga menyentuh level terendah 5.971,41.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan pelemahan IHSG dipicu kombinasi tekanan eksternal dan dinamika arus modal domestik.
“Tingkat imbal hasil obligasi AS (yield US 10-Year) yang masih berada di level tinggi serta penguatan Indeks Dolar AS (DXY) memicu tekanan net foreign outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Aksi jual bersih oleh investor asing terpantau masih melanda saham-saham berkapitalisasi besar,” ucap Nafan kepada kumparan, Senin (12/10).
Menurut Nafan, pergerakan harga komoditas global serta sikap investor yang cenderung menunggu kepastian data ekonomi AS dan arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed) turut menahan minat terhadap aset berisiko, termasuk saham domestik.
Di tengah tekanan pasar, Nafan menyarankan investor menerapkan strategi pembelian secara bertahap pada saham-saham berfundamental kuat yang mengalami koreksi harga.
“Merotasi sebagian portofolio ke sektor defensif seperti emiten pembagi dividen tinggi dapat membantu menjaga stabilitas investasi,” ujar dia.
Riset BRI Danareksa Sekuritas yang terbit pada akhir sesi I perdagangan, Senin (12/10) menilai prospek IHSG dalam jangka pendek cenderung negatif di tengah tekanan jual dan ketidakpastian geopolitik.
Pasar juga mencermati sejumlah sentimen global pekan ini, mulai dari eskalasi geopolitik di Timur Tengah hingga pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia pada 12-18 Oktober 2026.
Selain itu, rilis data inflasi AS dan China serta neraca perdagangan China pada Rabu (14/10) menjadi perhatian pelaku pasar. Data tersebut berpotensi mempengaruhi ekspektasi suku bunga, pergerakan dolar AS, nilai tukar rupiah, dan permintaan komoditas global.
Pidato sejumlah pejabat The Fed pada 14-16 Oktober juga akan dicermati investor untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS.
BRI Danareksa Sekuritas memperingatkan inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan berisiko memperkuat dolar AS, menekan rupiah, dan memicu tekanan terhadap arus dana asing di pasar domestik. Sementara itu, data ekonomi China berpotensi memengaruhi prospek ekspor RI dan pergerakan saham berbasis komoditas.
Top Gainers
BIKE (Bhineka Inovasi Ketahanan Energi) naik 530 poin (24,77%) ke 2.670
TFCO (Tifico Fiber Indonesia) naik 255 poin (24,76%) ke 1.285
MLPT (Multipolar Technology) naik 225 poin (24,59%) ke 1.140
IFSH (Ifishdeco) naik 410 poin (20,30%) ke 2.430
STRK (Lovina Beach Brewery) naik 13 poin (15,66%) ke 96
Top Losers
KDTN (Puri Sentul Permai) turun 70 poin (14,83%) ke 402
TRIN (Perintis Triniti Properti) turun 30 poin (14,71%) ke 174
TAXI (Express Transindo Utama) turun 2 poin (13,33%) ke 13
ASMI (Asuransi Maximus Graha Persada) turun 5 poin (12,82%) ke 34
HELI (Jaya Trishindo) turun 40 poin (12,82%) ke 272
Top Value
GOTO (GoTo Gojek Tokopedia) senilai Rp983,48 miliar
DSSA (Dian Swastatika Sentosa) senilai Rp500,10 miliar
BBCA (Bank Central Asia) senilai Rp489,66 miliar
BUMI (Bumi Resources) senilai Rp446,53 miliar
CUAN (Petrindo Jaya Kreasi) senilai Rp435,42 miliar
Top Volume
GOTO (GoTo Gojek Tokopedia) sebanyak 350,67 juta lembar
BUMI (Bumi Resources) sebanyak 25,28 juta lembar
FORU (Fortune Indonesia) sebanyak 19,05 juta lembar
VIVA (Visi Media Asia) sebanyak 11,61 juta lembar
ELTY (Bakrieland Development) sebanyak 9,49 juta lembar
