IHSG Terus Anjlok, Kebijakan Efisiensi Anggaran Masih Dipandang Negatif
·waktu baca 2 menit

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus anjlok pada Senin (10/2). Pada sesi I, IHSG ditutup anjlok 111,922 poin (1,66 persen) ke 6.630,653. Selain itu, Rupiah juga melemah 69,00 poin (0,42 persen) di Rp 16.352 terhadap dolar AS.
Analis dari Pilarmas Investindo Sekuritas, Nico Demus, melihat hal ini bisa terjadi atas faktor domestik terkait pemangkasan anggaran.
“Pemangkasan anggaran yang masih diinterpretasikan negatif,” jelasnya kepada kumparan, Senin (10/2).
Nico juga melihat ada beberapa faktor eksternal seperti dimulainya kebijakan perang dagang Amerika Serikat (AS) oleh Trump pada China, Meksiko dan Kanada, serta adanya pengenaan tarif terhadap baja dan alumunium sebesar 25 persen.
Selaras dengan itu, Analis dari Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan dari faktor eksternal hal ini disebabkan oleh AS yang menggencarkan banyak kebijakan untuk mengutamakan AS di era kepresidenan Trump.
“Nilai tukar rupiah pun mengalami kelemahan imbas dari half flow ya yang terjadi dari emerging market, sehubungan dengan implementasi dari First American Policy dan Make America Great Again ini cukup kuat,” jelas Nafan kepada kumparan, Senin (10/2).
Nafan melihat isu ini dicermati investor utamanya sejak AS keluar dari perjanjian iklim di Era Trump. Dari domestik, Nafan memperkirakan terus anjloknya IHSG disebabkan oleh minimnya kebijakan ekonomi yang memiliki dampak besar.
