Ikan Patin Lokal Siap Gusur Produk Impor dari Vietnam

Para pengusaha ikan patin tengah gencar meningkatkan produksi di pasar domestik. Mereka tengah bersiap-siap menguasai pasar lokal menggantikan ikan dory fillet asal Vietnam.
Direktur PT Central Pertiwi Bahari Samiono menyebutkan, selama ini tantangan yang dihadapi oleh para pelaku pasar ikan patin adalah serbuan ikan dory fillet impor dari Vietnam yang harganya murah.
"Momentum pertemuan hari ini yang sangat kita tunggu-tunggu karena kita menekuni bisnis ini hampir lima tahun. Selama lima tahun kita jatuh bangun, bahkan saya sempat cerita saya pernah punya stok sampai 650 ton enggak laku terjual, karena ikan dory impor masuk dengan harga Rp 32.000/kg," kata Samiono ditemui di Gedung Mina Bahari III KKP, Jakarta, Rabu (11/4).
Samiono mengaku saat ini pihaknya menjual ikan patin fillet di kisaran harga Rp 38.000/kg, lebih mahal dari ikan impor asal Vietnam.
"Kita kan beli ke petani sudah Rp 15.000/kg. Kalau yield hanya 30%, ongkos produksi saya udah Rp 39.000, sedangkan dari Vietnam masuk dengan harga Rp 32.000 dengan sendirinya saya tidak laku terjual," kata dia.
Tantangan lainnya yang dihadapi oleh para pengusaha ikan patin yaitu terkait warna ikan. Selama ini masyarakat menilai semakin putih ikan patin maka semakin bagus ikan tersebut. Justru, kata Samiono, ikan patin yang berwarna putih bersih tidak sehat.
"Image pasar domestik itu kalau warna putih itu bagus ya, padahal hasil yang dipublikasikan oleh Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) ternyata mereka itu pakai pemutih, mereka itu gunakan natrium tripolifosfat sampai 8.000 ppm di dalam ikan itu, jadi itu enggak sehat karena itu mensyaratkan kandungan maksimal layak itu 5.000 ppm," jelasnya.
Pengawasan ketat terhadap impor ikan patin fillet asal Vietnam memberikan angin segar kepada para pelaku usaha ikan patin untuk dapat mengembangkan bisnisnya.
