Kumparan Logo

Imbal Hasil Obligasi Jepang Tembus 3%, Tertinggi dalam 30 Tahun

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi mata uang Yen, Jepang. Foto: Dewi Rachmat Kusuma/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mata uang Yen, Jepang. Foto: Dewi Rachmat Kusuma/kumparan

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun menembus 3 persen pada Selasa (1/9), level tertinggi sejak 1996. Kenaikan ini menandai perubahan besar di pasar obligasi Jepang setelah biaya pinjaman acuan bertahan di dekat nol selama bertahun-tahun.

Dikutip dari Bloomberg, Rabu (2/9), dinamika pasar obligasi Jepang telah berubah secara dramatis sejak bank sentral mengakhiri kebijakan suku bunga negatif terakhir di dunia pada 2024. Harga yang sebelumnya berada di bawah kendali Bank of Japan (BOJ) kini lebih banyak ditentukan oleh investor, baik domestik maupun asing.

Mereka membuat keputusan untuk membeli dan menjual berdasarkan prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi dan risiko dan imbal hasil Japanese Government Bonds (JGB) dibandingkan dengan aset lainnya, daripada kebijakan BOJ.

“Imbal hasil yang meningkat akan membebani portofolio yang sudah ada melalui kerugian mark-to-market, tetapi juga menciptakan titik masuk yang lebih menarik bagi investor pendapatan tetap. JGB sekali lagi menjadi pilihan alokasi yang kredibel," kata Ahli Strategi Pasar Senior Asia Pasifik di BNY, Wee Khoon Chong.

Meski bank sentral masih memegang jumlah obligasi negara yang sangat besar, imbal hasil yang lebih tinggi mendorong institusi Jepang untuk membeli lebih banyak, sementara dana global semakin aktif melakukan perdagangan di pasar tersebut. Investor internasional menyumbang sekitar dua pertiga transaksi tunai JGB bulanan, naik dari 12 persen pada 2009.

Semua ini terjadi ketika imbal hasil obligasi di seluruh dunia bergerak lebih tinggi imbas kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi dan investor meningkatkan ekspektasi Federal Reserve akan menaikkan suku bunga, sehingga mendorong volatilitas di Jepang.

Ilustrasi Investasi. Foto: Shutterstock

Imbal hasil indeks Bloomberg naik untuk sesi keempat berturut-turut pada Senin, mencapai 3,72 persen, level tertinggi sejak pertengahan 2008. Imbal hasil obligasi Jepang yang lebih tinggi juga mencerminkan reflasi secara umum pada perekonomian yang sebelumnya stagnan, yang kini menikmati lonjakan laba perusahaan dan kenaikan upah.

Bagi pemerintah, tantangannya adalah memastikan seluruh pertumbuhan ini tercermin dalam penerimaan pajak yang memadai untuk menutupi meningkatnya biaya pendanaan yang muncul seiring kenaikan imbal hasil.

Dalam kondisi tersebut, Kementerian Keuangan Jepang mengajukan permintaan sebesar ¥36,6 triliun (USD 230 miliar) untuk biaya pembayaran utang dalam permintaan anggaran awal untuk tahun fiskal berikutnya. Angka tersebut dinilai merupakan rekor tertinggi.

Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun sedikit turun setelah lelang obligasi dengan tenor tersebut menunjukkan permintaan yang sejalan dengan rata-rata 12 bulan terakhir.

Imbal hasil obligasi Jepang di berbagai tenor, baik jangka pendek maupun panjang, telah meningkat seiring investor memperbesar taruhan bahwa BOJ akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, kemungkinan bulan ini atau bulan depan.

Pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi disebut mendukung kenaikan suku bunga dalam waktu dekat sebagai respons terhadap pelemahan yen yang terus berlanjut. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga meningkatkan tekanan terhadap BOJ untuk mengambil langkah berikutnya dalam kebijakan moneternya.

Swap indeks overnight mengindikasikan probabilitas sekitar 92 persen bahwa BOJ akan mengambil langkah kenaikan suku bunga pada September, sementara kenaikan pada Oktober bahkan sudah sepenuhnya tercermin dalam harga pasar.

Ilustrasi Exchange Traded Fund (ETF) Emas. Foto: Shutter Stock

Kekhawatiran fiskal secara umum juga tercermin dalam kenaikan imbal hasil. Takaichi telah mengungkap rencana belanja yang belum pernah terjadi sebelumnya yang bertujuan membentuk kembali perekonomian Jepang, tetapi pemerintah masih belum menjelaskan bagaimana mereka akan membiayai pemangkasan pajak konsumsi untuk makanan. Investor semakin sensitif terhadap prospek peningkatan utang seiring kenaikan imbal hasil.

“Meski sebagian investor obligasi mungkin sudah melihat level saat ini menarik dan mulai membeli, banyak investor lainnya masih memposisikan diri untuk mengantisipasi kenaikan imbal hasil lebih lanjut,” kata Kepala Strategi di T&D Asset Management Co, Hiroshi Namioka.

“Ada juga risiko pelemahan yen lebih lanjut yang berasal dari kekhawatiran fiskal, sehingga saya pikir repatriasi yang berarti masih cukup jauh,” tuturnya.

instagram embed