Bisnis
·
23 November 2020 11:52

Imbas Perang Dagang China-Australia, Saham Emiten Tambang Batu Bara Melesat

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Imbas Perang Dagang China-Australia, Saham Emiten Tambang Batu Bara Melesat (448753)
searchPerbesar
Sebuah kapal tongkang membawa batu bara yang menunggu masuk bongkar muat di pelabuhan tanjung priok. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Tensi perang dagang China-Australia sedang meningkat. Ada 7 produk impor asal Australia yang diboikot China, salah satunya batu bara. Dampaknya, negeri tirai bambu itu meningkatkan impor batu bara dari Indonesia.
ADVERTISEMENT
Harga Batu Bara Acuan (HBA) November 2020 mengalami kenaikan 9,23 persen dibandingkan dengan HBA Oktober 2020. Pada 4 November 2020 lalu, Kementerian ESDM menetapkan HBA bulan ini sebesar USD 55,71 per ton.
"Sinyalemen positif atas permintaan pasar (batu bara) ikut mendongkrak kenaikan HBA di bulan November. Belum lagi meningkatnya permintaan China karena tingginya harga batu bara domestik China ketimbang harga impor,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agung Pribadi.
Selain kenaikan permintaan dari China, pulihnya industri di berbagai negara, terutama Jepang dan Korea Selatan (Korsel), juga mendongkrak ekspor batu bara Indonesia. Perkembangan menggembirakan terkait hasil uji klinis vaksin COVID-19 membuat roda perekonomian bergerak semakin kencang.
ADVERTISEMENT
Ada dua vaksin corona yang telah menyampaikan data hasil uji klinis baru-baru ini. Keduanya adalah vaksin Pfizer dan Moderna. Efektivitas mereka dalam menimbulkan kekebalan terhadap virus corona diklaim 94 sampai 95 persen.
Hal-hal ini membuat harga saham emiten tambang batu bara melesat. Dikutip dari data RTI pada pukul 11.16 WIB, harga saham Adaro Energy (ADRO) naik 40 poin (3,29 persen) ke Rp 1.255, Bukit Asam (PTBA) naik 70 poin (3,20 persen) ke Rp 2.260, Indika Energy naik 110 poin (9,40 persen) ke Rp 1.280, dan Bumi Resources (BUMI) naik 1 poin (2 persen) ke Rp 51.