Imbas Perang Ukraina, Dunia Bergantung ke Energi Fosil Ketimbang EBT
·waktu baca 2 menit

Imbas perang antara Rusia dan Ukraina yang tak berkesudahan merembet ke banyak hal. Dunia terancam krisis pangan hingga energi.
Kondisi ini, membuat transisi energi yang selama ini dikejar banyak negara termasuk Indonesia akan bergeser. Alih-alih mengejar bauran energi baru dan terbarukan, Indonesia akan mengamankan pasokan energi termasuk dari fosil.
“Dengan adanya perang ada negara-negara yang kemudian mencoba untuk mengamankan stok energinya dan kebutuhan energinya tak semuanya renewable,” kata diakui Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edi Prio Pambudi, dalam briefing media di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (6/6).
Dengan adanya risiko itu, maka keamanan energi ini perlu untuk dibahas lebih jauh di Presidensi G20 di Indonesia. Saat ini pembahasan internasional tidak hanya fokus pada transisi energi atau mengurangi ketergantungan energi fosil, tapi mengamankan pasokan energi global.
“Tapi kemudian ketika diharapkan pada persoalan perang, negara-negara maju memberi subsidi kepada harga gas sehingga bisa jadi uang yang disiapkan untuk transisi energi tiba-tiba mereka gunakan untuk menjaga suplainya,” ujarnya.
Meski prioritas utama mengamankan pasokan energi, dalam pertemuan negara-negara G20 di Bali pada November mendatang, Indonesia juga akan membahas soal target negara-negara berkembang mengurangi emisi gas rumah kaca 29 persen pada 2030 atau 41 persen. Dia berharap Presidensi G20 Indonesia bisa digunakan untuk mendapatkan bantuan internasional mencapai target tersebut.
“Ini yang kemudian harus didorong di G20, kan ada istilahnya ada concrete deliverables mengajak mereka untuk memikirkan jangan cuma narasi tapi bentuknya seperti apa sehingga negara-negara berkembang juga bisa mengadopsi,” kata Edi.
Jika negara maju punya sumber dana, kata Edi, maka negara berkembang dapat memanfaatkannya melalui penggunaan adopsi teknologi.
“Saya kira kalau lihat gap-nya antara 29 sampai 41, artinya peran dunia sangat berpengaruh dan itu tidak hanya untuk Indonesia,” ujar dia.
