Kumparan Logo

Imbas Serangan Drone, Arab Saudi Tutup Pipa Minyak Rute Alternatif Selat Hormuz

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (20/4/2026). Foto: REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (20/4/2026). Foto: REUTERS

Arab Saudi menutup pipa minyak East-West yang menjadi jalur alternatif krusial untuk ekspor minyak di luar Selat Hormuz menyusul serangkaian serangan pada Kamis lalu.

Mengutip Bloomberg, Kementerian Energi Arab Saudi melalui unggahan di platform X pada Jumat menyatakan bahwa penghentian operasional saluran pipa tersebut dilakukan sebagai langkah pencegahan.

Kementerian menambahkan bahwa serangan tersebut menyebabkan beberapa korban luka, sementara tim tanggap darurat telah diterjunkan untuk mengamankan lokasi serta menilai tingkat kerusakannya.

"Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengkonfirmasi bahwa beberapa drone yang diluncurkan dari wilayah Irak menyerang fasilitas pipa minyak yang melintasi wilayah Riyadh dan Madinah," tulis laporan Bloomberg, dikutip Sabtu (12/9).

Eskalasi pertempuran di kawasan Timur Tengah kian meningkat dalam beberapa hari terakhir. Kelompok Houthi yang berbasis di Yaman mengeklaim telah menargetkan sejumlah fasilitas energi Arab Saudi di Abha, Najran, dan Jazan, sementara AS terus menggempur kapal-kapal tanker minyak milik Iran.

Pipa minyak East-West terbukti menjadi jalur penyelamat vital bagi ekspor minyak Arab Saudi di tengah gangguan akibat perang Iran.

Saluran pipa berkapasitas 7 juta barel per hari tersebut dengan cepat mencapai kapasitas penuh awal tahun ini setelah lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz hampir lumpuh total.

Pipa ini mengalirkan minyak keluar dari area Teluk Persia menuju Laut Merah agar dapat dimuat ke kapal-kapal tanker.

Namun, rute tersebut juga berada dalam tekanan tinggi beberapa pekan terakhir akibat gempuran serangan kelompok Houthi yang disokong Iran.

"Serangan pada hari Kamis menunjukkan secara jelas bahwa Iran dan sekutunya memiliki kemampuan sekaligus tekad untuk memukul infrastruktur energi regional, dan infrastruktur tersebut memang rentan terhadap serangan rudal balistik maupun drone," kata Gregory Brew, analis geopolitik dari Eurasia Group.

Harga minyak dunia bergerak stabil pascapernyataan resmi dari kementerian. Kontrak berjangka Brent diperdagangkan pada kisaran USD 105 per barel. Sebelumnya pada hari Kamis, harga Brent sempat melonjak mendekati USD 110 per barel dipicu spekulasi dampak kekerasan terhadap pasokan energi kawasan.

"Dampak dari gangguan ini sebenarnya sudah terproyeksi dalam harga pasar," tambah Brew.

Volume Ekspor Minyak Saudi Anjlok

Volume ekspor minyak Arab Saudi merosot ke kisaran 3 juta barel per hari pada Agustus. Catatan terendah sejak awal 2017 akibat maraknya serangan milisi Houthi terhadap kapal-kapal niaga di Laut Merah.

Ancaman kelompok Houthi mengemuka saat arus lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas. AS terus menerapkan blokade terhadap pengiriman dari pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Teheran membalas dengan menargetkan kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.

Berdasarkan data lembaga pemantau tanker Vortexa dan keterangan para eksekutif industri, volume produk minyak yang dikirim melalui perairan bersengketa tersebut kini hanya tersisa sekitar 1 juta barel per hari, turun drastis dari tingkat pra-perang yang mencapai 4 juta barel per hari.

Dampaknya tidak hanya mengerek harga minyak mentah, tetapi juga memicu lonjakan harga bahan bakar global.

Rata-rata harga eceran bensin di AS bertahan di atas USD 4 per galon (rekor tertinggi musiman), sementara harga eceran solar di AS melonjak ke rekor tertinggi sepanjang sejarah sebesar USD 6 per galon.

Sejumlah penyangga yang sempat menahan gejolak pasokan energi pada awal perang kini mulai menipis. Cadangan minyak AS menyusut drastis, sementara sebagian besar cadangan darurat yang dilepas oleh berbagai pemerintah negara dunia sudah habis terserap pasar.

Pasukan Houthi pekan ini terus bergerak ke arah selatan menyusuri pesisir Laut Merah Yaman menuju Selat Bab el-Mandeb sambil melanjutkan gempuran rudal dan drone ke Arab Saudi. Kondisi ini memaksa Arab Saudi menghentikan operasional di beberapa situs energinya.

Pergerakan militer tersebut kini menempatkan Arab Saudi pada pilihan sulit, mengeskalasi kampanye militer yang selama bertahun-tahun gagal menumpas milisi tersebut, atau membiarkan Houthi memegang kendali yang lebih besar atas akses Laut Merah.

"Riyadh berada dalam posisi yang sangat serba salah," ujar Fernando Ferreira, analis dari Rapidan Energy Group.

"Selama AS mempertahankan blokade dan mengawal lebih banyak tanker keluar dari kawasan, Iran akan mengalihkan fokusnya untuk meningkatkan intensitas serangan ke fasilitas-fasilitas energi di Teluk," imbuh Ferreira.