IMF Desak Negara Pangkas Defisit, Utang Global Tembus 100 Persen PDB

Dana Moneter Internasional (IMF) mendesak pemerintah di berbagai negara mempercepat langkah untuk mengurangi defisit anggaran dan mengendalikan utang.
Pasalnya, utang publik global diperkirakan menembus 100 persen Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2029.
Mengutip Bloomberg, Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, mengatakan upaya konsolidasi fiskal yang dilakukan berbagai negara masih belum cukup untuk mengatasi peningkatan utang.
“Kami telah memperingatkan bahwa konsolidasi fiskal harus dilakukan, dan kami melihat banyak pemahaman, tetapi belum cukup banyak tindakan,” kata Georgieva dikutip Senin, (21/9).
IMF memperkirakan rasio utang publik global akan mencapai lebih dari 100 persen PDB pada 2029. Proyeksi tersebut dua tahun lebih cepat dibandingkan perkiraan sebelumnya. Kenaikan utang terutama didorong oleh Amerika Serikat (AS) dan China.
Georgieva juga menyoroti kondisi fiskal AS. Menurut dia, pemerintah AS perlu secara bertahap mengurangi defisit dan utangnya.
“Kami telah mendorong AS untuk memperhatikan posisi fiskalnya. Dari pembicaraan dengan Menteri (Scott) Bessent, ada pemahaman bahwa kondisi ini tidak berkelanjutan, bahwa AS harus secara bertahap menurunkan defisit dan utangnya," katanya.
Georgieva sebelumnya juga berulang kali memperingatkan risiko peningkatan utang global. Pada bulan lalu, dia menyebut sebagian besar negara maju, termasuk AS, memiliki jalur utang yang membutuhkan perhatian kebijakan.
Selain persoalan utang, IMF menilai inflasi global masih menjadi tantangan. Georgieva menyebut inflasi masih membandel dan bank sentral di berbagai negara mungkin perlu mengikuti langkah Federal Reserve AS dan Bank Sentral Eropa (ECB) dalam menaikkan suku bunga.
Menurut dia, kenaikan biaya pinjaman akan semakin meningkatkan beban pembayaran utang pemerintah.
Di sisi lain, gangguan pada sektor energi dan transportasi turut menekan negara-negara produsen komoditas seperti Qatar, Kuwait, dan Irak. Georgieva memperkirakan kondisi tersebut dapat membuat perekonomian negara-negara tersebut mengalami kontraksi tajam.
Meski demikian, Qatar dinilai memiliki sejumlah penyangga ekonomi yang dapat membantu menghadapi tekanan tersebut. Sebelum perang Iran pecah tahun ini, Qatar merupakan eksportir gas alam cair (LNG) terbesar kedua di dunia.
Qatar telah membangun sejumlah penyangga ekonomi yang “melindungi perekonomian saat ini”, kata Georgieva.
“Pasar negara berkembang saat ini memiliki kebijakan moneter yang sama atau lebih baik dibandingkan negara maju, di mana tingkat utang telah melonjak,” tambahnya.
IMF akan memperbarui proyeksi ekonomi global dan inflasinya pada bulan depan. Dalam proyeksi saat ini, IMF memperkirakan ekonomi Qatar menyusut 8,6 persen pada 2026.
Ketidakpastian jangka panjang di pasar LNG juga menjadi salah satu risiko terhadap prospek pertumbuhan Qatar. Sebelum perang di Iran, IMF memperkirakan ekonomi Qatar masih dapat tumbuh 6,1 persen pada tahun ini.
Qatar Economic Forum diselenggarakan oleh Bloomberg dengan Pemerintah Negara Qatar sebagai penjamin.
