Kumparan Logo

Impor Bahan Baku Kain Terus Melonjak, Harus Dikendalikan

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pabrik tekstil. Foto: Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pabrik tekstil. Foto: Getty Images

Pemerintah dan para pelaku usaha mengaku berupaya mengoptimalkan penggunaan bahan baku lokal dalam industri tekstil. Pasalnya, impor bahan baku kain saat ini tercatat terus membengkak.

Padahal, kebutuhan terhadap pakaian jadi atau garmen cenderung meningkat. Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, mengatakan bahwa di tahun 2008 impor bahan baku kain tercatat sebesar 300 ribu ton, sementara ekspor pakaian jadi sebanyak 500 ribu ton.

“Tapi kalau sekarang ekspor kita itu tercatat hampir 500 ribu ton dan impor sekitar 890 ribu ton. Kebalikannya. Artinya kita defisit. Ini makanya kita minta tolong untuk kendalikan impor bahan baku kainnya,” katanya saat ditemui di Hotel Unigraha, Pangkalan Kerinci, Jumat (6/9).

Karena itu, Kementerian Perindustrian menjalin komitmen bersama antar pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan pemakaian bahan baku dalam negeri. Salah satunya dengan PT Asia Pasific Rayon selaku produsen viscose rayon.

Viscose rayon merupakan bahan baku baku tekstil berkelanjutan yang sudah diproduksi di Indonesia. Viscose rayon adalah serat benang yang berasal dari pohon dan dapat terurai secara alami.

Penandatanganan kesepakatan dorong pptimalisasi bahan baku tekstil dalam negeri di Kantor Pusat PT Asia Pacific. Foto: Elsa Toruan/kumparan

Adapun penandatanganan kesepakatan tersebut diwakili oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat, Sekretaris Jenderal Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita, Direktur Asia Pacific Rayon (APR) Basrie Kamba, perwakilan desainer dalam Indonesia Fashion Chambers Yufie Safitri Sobari dan lainnya.

“Setelah ini, kami akan membuat policy yang sesuai untuk mengamankan pasar dalam negeri dulu dan kemudian berlanjut ke ekspor,” tambahnya.

Selain itu, Sigit menyebut saat ini pihaknya sudah punya nomenklatur baru, yakni kepala pusat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pemakaian komponen di dalam negeri.

Selain itu, dua hari lalu Kemenperin menyebut telah menjalin kerja sama dengan Bank Indonesia (BI) di sektor tekstil dan manufaktur.

“Akan kami bahas dengan BI bagaimana sektor perbankan bisa mendorong industri ini karena ada anggapan industri ini tidak produktif,” tutupnya.