Impor KRL Bekas Jepang, KAI: Kebutuhan Mendesak!
·waktu baca 2 menit

Pemerintah berencana melakukan impor rangkaian kereta (train set) bekas untuk KRL Jabodetabek dari Jepang. Hal ini demi menggantikan kereta lama yang sudah uzur.
VP Public Relations PT KAI, Joni Martinus, mengatakan bahwa impor KRL bekas sebagai kebutuhan mendesak. Adapun kebutuhan masyarakat terhadap angkutan masih tinggi.
"Khusus untuk KRL ya dan kebutuhan mendesak, karena sekali lagi ini terkait dengan kapasitas angkut untuk ketika tadi ada gerbong dipensiunkan. Kemudian kebutuhan masyarakat masih tinggi, itu kita harus bisa antisipasi itu," ujar Joni di Loko Coffee Shop Bandung, Senin (6/3).
Dia menjelaskan bahwa kapasitas angkut 1 gerbong dapat mencapai sekitar 175 orang. Apabila diakumulasikan satu rangkaian kereta secara simultan bolak-balik dapat mengangkut puluhan ribu penumpang.
Untuk itu, penolakan impor kereta bekas hanya akan mengganggu mobilitas masyarakat yang menggunakan KRL. Sebab, kapasitas angkutnya berkurang.
"Dengan berkurangnya gerbong pasti berkurang juga kapasitas angkut. Dengan berkurangnya jumlah yang beroperasi, tentu kapasitas angkut berkurang," tegasnya.
Di sisi lain, pihaknya mendukung penuh produksi dalam negeri. Ia juga mengungkapkan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) telah memesan 16 kereta produk lokal dari PT INKA (Persero).
"KRL tentu kita juga akan maksimal memanfaatkan produksi dalam negeri tapi ini tidak bisa cepat ya untuk membuat kereta baru butuh proses 2-3 tahun," pungkas dia.
Hanya saja, pesanan kereta tersebut tidak bisa selesai dalam waktu dekat ini. Meski begitu, Joni menilai kebutuhan masyarakat tidak bisa ditunda dengan menunggu selama 2 tahun.
"Tapi harus ada pengganti. Maka dari itu sekali lagi bahwa dari sisi produk dalam negeri, kereta api Indonesia itu sangat concern untuk menggunakan produk dalam negeri," kata Joni.
