Kumparan Logo

Impor Obat Herbal China untuk Pasien Corona, DPR Dikritik Industri Jamu RI

kumparanBISNISverified-green

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jamu juga memiliki manfaat besar untuk kecantikan kulit. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Jamu juga memiliki manfaat besar untuk kecantikan kulit. Foto: Shutterstock

Satgas COVID-19 DPR memberikan bantuan alat kesehatan hingga obat untuk berbagai rumah sakit di berbagai daerah dalam penanganan COVID-19. Termasuk, obat herbal yang dipercaya bisa menguatkan antibodi bagi pasien COVID-19.

Namun, salah satu hal yang kemudian menjadi sorotan ialah obat herbal yang dibagikan ke RS rujukan COVID-19 tersebut, ada yang diimpor dari China.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu), Dwi Ranny Pertiwi mengatakan, jamu dari China pada RS rujukan tersebut, dilakukan tanpa ada komunikasi baik dengan industrinya hingga BPOM.

"Kami ditanya BPOM terkait jamu ini juga para dokter di RS rujukan, karena semua bingung dengan produk jamu yang dibagikan dan diklaim oleh Satgas DPR untuk pasien COVID-19," kata Ranny dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Senin (27/4).

Ilustrasi jamu tradisional. Foto: ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra

Di sisi lain, pihaknya bilang, bahan baku jamu tersebut merupakan jamu masuk angin biasa yang dapat diproduksi dalam negeri. Sehingga berpotensi bakal berpengaruh pada industri jamu lokal, terlebih jika diimpor dalam jumlah besar-besaran.

"Itu kami sangat keberatan ternyata kami jamu Indonesia tidak dianggap oleh Satgas Lawan COVID-19 DPR RI," kata dia.

Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Inggrid Tania menambahkan, saat ini jamu lokal kondisinya memang belum memiliki kesempatan untuk masuk di RS rujukan, sebab belum melalui uji klinis untuk penyembuhan COVID-19.

Namun, sebetulnya hal itu juga terjadi di jamu-jamu dari China yang diimpor tersebut. Hanya saja menurutnya, jamu-jamu China mendapat publikasi yang lebih masif dibandingkan jamu industri lokal.

Di sisi lain, testimoni anggota DPR yang sembuh setelah mengonsumsi jamu impor China itu, juga tak bisa lantas jadi landasan. Apalagi untuk dibagikan dalam jumlah besar.

"Sebenarnya kalau jamu Indonesia, juga punya jamu kaya gini, tapi kenapa pakai jamu dengan China? Sebenarnya para pasien memberikan obat macam-macam dari konvensional dan jamu ini. Kita enggak tau ini yang menyembuhkan yang mana," tegasnya.

Anggota Fraksi Partai Gerindra Komisi VI Andre Rosiade. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Menanggapi protes tersebut, anggota Komisi IV DPR Andre Rosiade yang masuk dalam Satgas Corona DPR pun menekankan, kegiatan pembagian jamu kepada rumah sakit rujukan COVID-19 adalah semata-mata untuk membantu kerja pemerintah.

"Obat itu dari 15 bahan jamu, 13 jamu ada di Indonesia hanya 2 yang diimpor dari China. Kenapa sih Satgas merekomendasikan? Karena memang Herbalfit (jamu yang diimpor) itu teruji waktu itu, ada salah satu pimpinan DPR bersama 6 keluarganya yang terpapar virus corona, dan mereka alhamdulilah mereka sembuh, jadi dia nazar (untuk membagikan)," kata dia di kesempatan sama.

Pihaknya mengaku, distribusi jamu herbal itu ada sebanyak 3.000 pcs untuk pasien COVID-19. Dari jumlah itu, pihaknya pun menuturkan banyak mendapatkan testimoni tentang perbaikan penyembuhan corona.

"Saya sendiri membagikan 21 jamu itu di Sumbar, di dapil saya, alhamdulilah respons positif (atas) langkah-langkah kesembuhan pasien-pasien Sumbar 2 hari lalu 70 pasien positif di Sumbar. Ini dibagikan secara gratis," kata dia.

Di sisi lain, Ia pun menegaskan pembelian jamu oleh Satgas COVID-19 DPR tak ada maksud digunakan untuk komersil dan tidak menggunakan anggaran negara.

"Tolong jangan menyerang Satgas mari kita bekerja sama, kami tidak bermaksud mengganggu industri lokal, kami akan terbuka juga dengan rekomendasi jamu lokal jika terbukti menyembuhkan pasien COVID-19," ujarnya.

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

***

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.