Kumparan Logo

Impor Obat-obatan RI dari China Naik 22,45 Persen di Maret 2020

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi obat-obatan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi obat-obatan. Foto: Shutterstock

Produk industri farmasi asal China masih membanjiri Tanah Air di tengah pandemi virus corona. Mulai dari obat-obatan herbal hingga obat yang mengandung antibiotik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diterima kumparan, Kamis (16/4), total impor produk farmasi asal China selama Maret 2020 mencapai USD 6,8 juta, naik 28,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, total impor farmasi asal China naik 22,45 persen. Secara kumulatif sejak Januari-Maret 2020, impor farmasi ini mencapai USD 18,36 juta atau naik 22,9 persen dibandingkan periode yang sama pada 2019.

Secara rinci, impor farmasi yang paling tinggi kenaikannya adalah obat-obatan yang mengandung antibiotik. Nilainya mencapai USD 0,9 juta, naik 191,71 persen atau hampir tiga kali lipatnya dibandingkan Februari 2020 yang hanya USD 0,3 juta.

Jika dibandingkan dengan Maret 2019, impor obat yang mengandung antibiotik asal China itu naik 2.345,87 persen.

Ilustrasi Obat-obatan. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Secara kumulatif sejak Januari-Maret 2020, impor obat yang mengandung antibiotik asal China itu sebesar USD 1,69 juta, atau naik 635,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD 0,23 juta.

Selain itu, obat herbal asal China senilai USD 3 juta selama Maret 2020. Angka ini naik 41,76 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya USD 2,1 juta.

Namun dibandingkan dengan Maret 2019, impor obat herbal dari China justru turun tipis 1,53 persen. Secara kumulatif Januari-Maret 2020, obat herbal dari China hanya USD 5,87 juta atau turun 7,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Meski demikian, impor sejumlah obat dan alat kesehatan lainnya asal China mengalami penurunan. Bahkan impor beberapa komoditas farmasi tersebut nihil sejak awal tahun ini.

Selama kuartal I 2020, impor vaksin untuk pengobatan manusia (selain tetanus, toksoid dan pertusis, campak, meningitis, atau polio) hanya USD 0,1 juta atau turun 91,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai USD 0,8 juta. Selama Maret 2020, tak ada impor vaksin untuk manusia dari China.

Kain kasa dari China juga nihil selama bulan lalu. Bahkan jika diakumulasikan sejak Januari-Maret 2020, impor kain kasa hanya USD 0,1 juta. Padahal di periode yang sama tahun lalu, impor tersebut senilai USD 0,4 juta.