Kumparan Logo

INACA Pertanyakan Harga Avtur Penerbangan Luar Negeri yang Lebih Murah

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Pertamina di Bandara Komodo, Labuan Bajo. (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Pertamina di Bandara Komodo, Labuan Bajo. (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)

Indonesia Air Carriers Association (INACA) berencana untuk mengadakan pertemuan dengan PT Pertamina Aviasi untuk membahas harga Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk pesawat, Avtur. Adapun pertemuan itu akan difasilitasi oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Ketua Umum INACA I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, menyampaikan bahwa dalam pertemuan itu, pihaknya ingin bertanya kepada Pertamina Aviasi terkait harga Avtur yang dibebankan untuk pesawat rute luar negeri lebih murah dari dalam negeri.

"Dari invoice yang kami dapat dari maskapai, jadi Pertamina menjual lebih murah 2 persen untuk rute internasional," ucap Ari Askhara, sapaan akrabnya di Penang Bistro, Jakarta, Selasa (15/1).

Sementara untuk rute domestik berdasarkan invoice dari maskapai penerbangan, menurut dia, Pertamina Aviasi membebankan harga Avtur yang lebih mahal 16-20 persen. Ari Askhara menyebut, harga Avtur dari penyedia jasa luar negeri lebih murah.

Ilustrasi Maskapai Garuda dan Sriwijaya Air. (Foto: Shutter stock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Maskapai Garuda dan Sriwijaya Air. (Foto: Shutter stock)

"Untuk domestik bervariasi, 16-20 persen lebih mahal. Jadi kami akan berdiskusi, kami menunggu dari Kemenhub mengundang kami," paparnya.

Ari Askhara pun mengungkapkan, harga Avtur sejak April 2016 hingga Desember 2018 itu naik di atas 68 persen. Selain itu, pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan biaya sewa pesawat berkontribusi besar terhadap biaya operasional maskapai.

"Kurs itu sendiri average (kenaikan) sekitar 8 persen, untuk komponen leasing ini didominasi atau oligopoli dari Eropa dan AS, kami tergantung pada fluktuasi," tegas Ari Askhara.

Sementara untuk biaya pegawai hingga maintenance pesawat hanya berkontribusi masing-masing 10 persen dari total biaya keseluruhan. Dia menjelaskan, selama ini maskapai mengandalkan pendapatan lain seperti iklan hingga bagasi untuk membantu menutup biaya operasional yang melonjak.