Kumparan Logo

Indeks Kepercayaan Industri Tekstil Merosot Imbas Harga Bahan Baku-Impor

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif (tengah), memberikan keterang pers di Kantor Kemenperin, Jakarta Selatan pada Kamis (30/10). Foto: Muhammad Fhandra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif (tengah), memberikan keterang pers di Kantor Kemenperin, Jakarta Selatan pada Kamis (30/10). Foto: Muhammad Fhandra/kumparan

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) nasional pada Oktober 2025 berada di level 53,50 atau naik 0,48 poin dibanding bulan sebelumnya. Namun, satu subsektor industri tercatat mengalami kontraksi, yaitu Industri Tekstil (KBLI 13) dengan nilai IKI sebesar 49,74.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin, Rizky Aditya Wijaya, mengatakan penurunan IKI tekstil tidak menandakan pelemahan mendasar dalam industri.

"Kami memandang kondisi ini tidak menunjukkan pelemahan struktural melainkan penyesuaian normal seiring dengan perubahan dinamika perdagangan global dan siklus permintaan tekstil internasional," ujar Rizky di Kantor Kemenperin, Jakarta, Kamis (30/10).

Dia menjelaskan, penurunan IKI tekstil disebabkan empat faktor utama. Pertama, harga jual karena adanya kenaikan harga jual produk yang menyebabkan pesanan dari domestik, retail, dan grup perusahaan menurun.

Ilustrasi pabrik tekstil. Foto: Shutterstock

Faktor kedua adalah kenaikan biaya bahan baku akibat pelemahan nilai tukar. "Kalau kita lihat kan, kurs rupiah itu selemah ya di bulan Oktober, dan angkanya cukup signifikan, jadi itu berpengaruh pada biaya produksi mereka," katanya.

Faktor ketiga berkaitan dengan permintaan ekspor, menurutnya ekonomi global sedang mengalami tantangan di masa sekarang, dan kondisi ekonomi di negara tujuan ekspor lah yang menyebabkan pesanan turun.

"Antara kita supply bahan baku sampai keluar produknya, itu kan perlu waktu 3-6 bulan. Oktober itu kurang 3 bulan dari pergantian tahun. Jadi memang itu sudah siklusnya seperti itu," jelasnya.

Rizky tidak menampik peningkatan impor juga menjadi salah satu tekanan bagi sektor tekstil.

"Kalau kita bicara soal peningkatan impor, ya kami tidak menampik bahwa terjadi peningkatan impor di sektor tekstil. Namun sekali lagi kita lihat dari karakteristik tekstil tersebut sebagai bahan baku dari produksi garment," katanya.

Meski mengalami perlambatan, Rizky menegaskan aktivitas industri tekstil dalam negeri tetap berjalan normal dan produk tekstil masih terserap oleh pasar.