India Alami Gelombang Ketiga Pandemi, RI Kehilangan Jatah 10 Juta Dosis Vaksin

India kembali mengalami kenaikan kasus COVID-19 dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan ini dikonfirmasi sebagai third wave atau gelombang ketiga pandemi corona di negara tersebut. Adanya third wave di India ini ternyata berdampak pada Indonesia, khususnya dalam hal pasokan vaksin.
Seperti diketahui, Indonesia memesan vaksin COVID-19, salah satunya dari India yang merupakan salah satu produsen vaksin di dunia. Namun adanya kenaikan kasus positif membuat India menahan vaksin produksi mereka dan batal memberikannya kepada Indonesia.
“Di bulan Maret April ini rencananya ada stok 15 juta dosis vaksin. Tapi gara-gara ada lonjakan kasus di India, akhirnya India embargo vaksinnya. Sehingga kita kehilangan 10 juta dosis yang harusnya kita peroleh dari WHO yang gratis itu,” ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam CIMB Niaga Forum Indonesia Bangkit, Selasa (6/4).
Budi merinci rencananya Indonesia akan memesan 11,7 juta vaksin buatan India. Namun karena adanya embargo tersebut, jatah vaksin yang diberikan ke Indonesia berkurang drastis dan tersisa menjadi sekitar 1,3 sampai 1,4 juta dosis.
“Jadi (vaksinasi) di April ini akan sangat sulit masanya karena jumlah vaksin sedikit. Tapi Mei rencana vaksin produksi Biofarma bisa meningkat kembali sehingga lajunya bisa kita tingkatkan,” ujar Budi.
Seperti diketahui saat ini semua negara sedang berlomba mengamankan pasokan vaksin sebab ada kekhawatiran bahwa negara produsen akan menahan distribusi vaksin. Adapun sejatinya sejak akhir 2020 lalu pemerintah Indonesia telah mengupayakan diplomasi untuk mengamankan stok vaksin sesegera mungkin.
Namun nampaknya third wave hingga munculnya mutasi varian baru corona juga membuat negara produsen vaksin lebih protektif. Budi tidak menampik persaingan untuk mendapatkan vaksin antarnegara ini cukup membuatnya khawatir. Apalagi saat ini negara produsen mulai lebih ketat dalam menjual vaksin buatan mereka.
“Yang saya khawatir adalah ketersediaan vaksin yang cukup melihat bahwa tren di dunia sekarang negara produsen vaksin sangat proteksionis,” tandasnya.
