India Pangkas Pajak Impor Minyak Sawit, Ekspor RI Diprediksi Meningkat

4 Agustus 2021 13:47 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pekerja membongkar buah kelapa sawit di unit pemrosesan minyak kelapa sawit milik negara. Foto: REUTERS / Tarmizy Harva
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja membongkar buah kelapa sawit di unit pemrosesan minyak kelapa sawit milik negara. Foto: REUTERS / Tarmizy Harva
ADVERTISEMENT
Pemerintah India merevisi pajak impor atau bea masuk minyak sawit baru-baru ini. Hal tersebut diprediksi akan mendorong kinerja industri sawit Indonesia, khususnya ekspor, pada tahun ini.
ADVERTISEMENT
Pemerintah India menurunkan pajak impor CPO dari 49,5 persen menjadi 41,25 persen selama tiga bulan. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Fadhil Hasan memprediksi, dampak kebijakan penurunan pajak impor oleh pemerintah India akan mendongkrak kinerja industri kelapa sawit pada tahun ini.
“India baru saja merevisi pajak impor sehingga lebih rendah, akan ada peluang meningkatkan ekspor,” katanya dalam webinar Industri Hilir Sawit Nasional dan Tantangan Keberlanjutan, Rabu (4/7).
Sepanjang 2020, Kepala Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDKS) mencatat nilai ekspornya mencapai USD 22,97 miliar atau setara Rp 321,5 triliun (kurs Rp 14.000) atau tumbuh 13,6 persen dibanding periode tahun sebelumnya.
Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Asian Agri ini menambahkan, faktor lain yang membuat industri kelapa sawit moncer yaitu pemulihan ekonomi yang terjadi di pasar tradisional dan non-tradisional, seperti China dan AS.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, permintaan minyak sawit dari negara importir sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
“Saya kira mengalami pemulihan yang relatif baik. Biasanya permintaan palm oil hubungan erat dengan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” tuturnya.
Adapun faktor internal yang masih membuat pelaku usaha optimistis yaitu harga yang cenderung naik menjelang semester II 2021. Padahal, pada saat masa panen atau memasuki semester II harga sawit cenderung turun.
Pada tahun ini, penggunaan program biodiesel 30 persen (B30) yang dinilai optimal telah membuat harga kelapa sawit cenderung stabil dan naik di saat menjelang panen raya.
“Konsistensi dari Indonesia yang mempertahankan B30 itu membuat suatu permintaan ini dan harga relatif stabil,” jelas Fadhil.