Kumparan Logo

India Terus Beli Minyak dari Rusia, Kini Terancam Kena Tarif 100% oleh Trump

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Harga bahan bakar minyak yang baru saja naik terpampang di sebuah pompa bensin di Malvan, India (15/5/2026). Foto: Francis Mascarenhas/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Harga bahan bakar minyak yang baru saja naik terpampang di sebuah pompa bensin di Malvan, India (15/5/2026). Foto: Francis Mascarenhas/REUTERS

India menghadapi ancaman tarif hingga 100 persen dari Amerika Serikat (AS) setelah Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) AS meloloskan undang-undang yang memungkinkan Presiden Donald Trump menjatuhkan sanksi terhadap Rusia dan negara-negara pembeli minyak serta gas Rusia.

Dikutip dari BBC, ancaman tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi India karena Rusia menjadi pemasok utama minyak mentah negara tersebut. India mengimpor lebih dari 88 persen kebutuhan minyak mentahnya.

Berdasarkan laporan Global Trade Research Initiative (GTRI), Rusia memasok 30,3 persen impor minyak mentah India pada tahun fiskal 2026, dengan nilai USD 40,8 miliar dari total biaya impor minyak mentah sebesar USD 134,7 miliar. Pada Juli 2026, minyak mentah Rusia menyumbang lebih dari setengah total impor India.

DPR AS meloloskan RUU tersebut pada Rabu (16/9). Aturan itu memberikan kewenangan luas kepada Trump untuk mengenakan sanksi terhadap Rusia dan tarif hingga 100 persen terhadap negara-negara yang membeli minyak dan gas Rusia. RUU tersebut selanjutnya akan diserahkan kepada Trump untuk ditandatangani menjadi UU.

India dan China menjadi dua negara yang paling terdampak terhadap kebijakan tersebut karena keduanya merupakan pembeli utama minyak Rusia. Menurut lembaga pemikir Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), China menyumbang 50 persen ekspor minyak mentah Rusia, sedangkan India 37 persen, Turki 5 persen, dan Uni Eropa 5 persen pada periode Desember 2022 hingga Agustus 2026.

Mantan pejabat perdagangan India sekaligus pimpinan GTRI, Ajay Srivastava, menilai RUU tersebut merupakan upaya menekan India dalam negosiasi perdagangan bilateral.

“RUU ini merupakan upaya yang tidak terukur dan berbahaya untuk menekan India agar menandatangani perjanjian perdagangan bilateral dengan persyaratan yang sepihak. India membeli minyak Rusia untuk memastikan energi yang terjangkau bagi 1,4 miliar penduduknya, bukan untuk membiayai perang, dan pembelian ini telah membantu menstabilkan pasokan serta harga global,” kata Srivastava dari BBC, Sabtu (19/9).

Perhitungan ekonomi pembelian minyak Rusia telah berubah. Diskon minyak mentah Rusia tidak lagi sebesar pada tahun-tahun awal perang, sementara persaingan untuk mendapatkan pasokan tersebut semakin ketat. Biaya pengiriman, asuransi, dan risiko sanksi juga meningkat.

Senator Partai Demokrat AS Richard Blumenthal mengatakan India dan China seharusnya mencari pemasok minyak dan gas dari negara lain.

“China dan India, sebaiknya kalian membeli minyak dan gas dari tempat lain,” kata Blumenthal.

Presiden AS Donald Trump di Bandara Ankara, yang melakukan kunjungan resmi ke Turki menjelang KTT Kepala Negara dan Pemerintah NATO ke-36 di Ankara, Turki, pada 7 Juli 2026. Foto: Dogukan Keskinkilic/Pool via Reuters

Kedua negara biasanya memiliki waktu 180 hari untuk mengurangi impor energi dari Rusia atau melakukan negosiasi dengan Washington. Namun, Trump dapat memperpendek batas waktu tersebut.

Pemerintah India menyatakan sedang memantau perkembangan terkait kebijakan tersebut dan tetap berkomitmen memastikan ketahanan energi bagi masyarakatnya.

“Masalah ini telah dibahas di tingkat tinggi dalam beberapa bulan terakhir dengan berbagai pihak dari AS. Implikasi potensialnya, bukan hanya terhadap hubungan bilateral, tetapi juga pasar energi internasional, telah disampaikan dengan sangat jelas oleh pihak India,” kata pemerintah India.

India masih dapat mencari alternatif minyak mentah Rusia. Namun, penggantian pasokan dalam skala besar berpotensi meningkatkan biaya impor. S&P Global menyebutkan pasokan alternatif dapat menyebabkan kenaikan biaya minyak mentah, pengangkutan, dan asuransi. Rute pengiriman yang lebih panjang juga akan menambah beban biaya. Ancaman tarif AS juga tidak secara langsung berupa pajak terhadap minyak mentah Rusia yang masuk ke India. Dampaknya akan dirasakan melalui ekspor India ke Amerika, nilai tukar rupee, margin kilang, dan neraca perdagangan. Michael Kugelman, peneliti senior di Atlantic Council, mengatakan kebijakan tersebut dapat berdampak besar terhadap India, terutama ketika kedua negara tengah menjalani tahap akhir negosiasi perdagangan. “RUU baru ini dapat menimbulkan dampak besar yang bermasalah bagi India, dan hadir pada waktu yang paling tidak tepat, di tengah tahap akhir negosiasi perdagangan yang sensitif serta hubungan bilateral yang lebih luas dan tidak stabil,” kata Kugelman. Dari sisi neraca perdagangan, berdasarkan Perwakilan Dagang AS (US Trade Representative), AS mengimpor barang senilai sekitar USD 104 miliar dari India pada 2025. Sementara itu, total perdagangan barang dan jasa kedua negara mencapai sekitar USD 240 miliar. Produk ekspor India ke AS mencakup elektronik, obat-obatan, mesin, perhiasan, bahan kimia, tekstil, dan produk minyak bumi. Pada 2025, ekspor peralatan listrik dan elektronik India ke Amerika mencapai sekitar USD 25,8 miliar, obat-obatan USD 9,7 miliar, dan mesin USD 7,2 miliar.

Mesin Voting Elektronik (EVM) alat yang digunakan untuk pemilu di India. Foto: AFP/MONEY SHARMA

Ancaman tarif terbaru ini muncul setelah Trump sebelumnya mengenakan tarif terhadap barang-barang India yang mencapai 50 persen pada 2025 sebelum diturunkan. Kondisi tersebut membuat pemerintah India harus mempertimbangkan biaya pembelian minyak Rusia dengan risiko terhadap ekspor ke AS. Perhitungannya akan bergantung pada besaran diskon minyak Rusia, harga minyak mentah global, biaya pengangkutan dan asuransi, serta tarif yang pada akhirnya diberlakukan Trump. Ketergantungan India terhadap minyak Rusia juga berkaitan dengan aktivitas pengolahan minyak mentah menjadi bahan bakar untuk kebutuhan domestik dan ekspor. Serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia telah memaksa negara yang sebelumnya merupakan eksportir produk minyak terbesar di dunia tersebut untuk mengimpor bahan bakar. Menurut CREA, impor bahan bakar Rusia pada Agustus mencapai rekor 172.000 ton, lebih dari tujuh kali lipat rekor bulanan sebelumnya. India memasok sekitar 120.000 ton atau 70 persen dari impor tersebut. Sebagian besar berupa bensin hasil pengolahan minyak mentah Rusia di kilang yang berada di Gujarat, dengan nilai sekitar 78 juta euro. China membeli minyak mentah Rusia lebih banyak dibandingkan India. Namun, Kugelman mengatakan China memiliki daya tawar yang lebih besar karena perannya dalam rantai pasok global dan skala hubungan ekonomi dengan AS. “China memiliki daya tawar yang sangat besar terhadap ekonomi global, khususnya melalui dominasinya atas rantai pasok strategis. India, meskipun merupakan salah satu ekonomi terbesar di dunia, tidak memiliki daya tawar yang sama,” kata Kugelman.

Harga bahan bakar minyak yang baru saja naik terpampang di sebuah pompa bensin di Malvan, India (15/5/2026). Foto: Francis Mascarenhas/REUTERS

Bagi India, persoalan minyak Rusia tidak hanya terkait volume pembelian, tetapi juga ketahanan alternatif pasokan energi. Lebih dari 85 persen minyak mentah India berasal dari enam negara, beberapa di antaranya berada di wilayah yang rentan konflik. Menurut Council on Energy, Environment and Water (CEEW), kilang-kilang India juga tidak selalu dapat beralih dengan mudah di antara berbagai jenis minyak mentah. India turut mengimpor lebih dari 60 persen kebutuhan LPG, yang menjadi bahan bakar memasak utama bagi lebih dari 330 juta rumah tangga. Cadangan minyak strategis India hanya mampu memenuhi 9–10 hari kebutuhan impor minyak bersih, sedangkan Jepang memiliki sekitar 200 hari dan Korea Selatan 207 hari. Persediaan operasional di kilang menyediakan tambahan pasokan untuk 64 hari. CEEW memperkirakan India telah menghemat sekitar USD 12,6 miliar sejak beralih ke minyak mentah Rusia setelah 2022. Kini, ancaman tarif AS dapat mengubah penghematan tersebut menjadi beban bagi India. Pemerintah New Delhi harus menghitung apakah keuntungan dari pembelian minyak Rusia sebanding dengan risiko yang muncul terhadap hubungan perdagangan dengan AS. Srivastava dari GTRI memperkirakan Washington dapat menawarkan tarif lebih rendah jika India mengurangi pembelian minyak Rusia dan menerima konsesi dalam kesepakatan perdagangan bilateral. “India seharusnya tidak membiarkan ancaman tarif AS menentukan kebijakan energinya. India harus terus membeli minyak Rusia selama harganya tetap kompetitif secara komersial dan bernegosiasi secara tegas dengan Washington tanpa memberikan konsesi perdagangan sepihak,” ujar Srivastava.