Indika Energy Mulai Percobaan Produksi Emas Tambang Awak Mas Mulai Akhir 2026
·waktu baca 4 menit

PT Indika Energy Tbk (INDY) menargetkan 50 persen pendapatan dari non-batu bara. Saat ini, pengembangan proyek tambang emas menjadi pilihan di mana Indika sedang menyiapkan percobaan produksi dari tambang emas mereka bisa dimulai pada akhir 2026.
Indika Energy sudah mengakuisisi PT Masmindo Dwi Area yang sudah memiliki izin tambang Awak Mas, Terra, dan Salo Bulo di Sulawesi Selatan. Proyek tambang yang ditarget mulai percobaan produksi emas akhir 2026 adalah Awak Mas.
“Kita sudah mengakuisisi Masmindo ini 100 persen, sekarang kita memiliki dan sedang dalam tahap pengembangan. Targetnya kita itu completion of development itu production di akhir 2026 dan commercial production di first quarter 2027,” kata Director & Group Chief Financial Officer Indika, Retina Rosabai, dalam Public Expose Indika Energy 2025 di Grha Mitra, Jakarta Selatan pada Kamis (27/11).
Dari lahan konsesi seluas 14.390 hektare yang berada di Sulawesi Selatan, pengembangan baru dilakukan untuk lahan seluas 1.444 hektare atau sekitar 10 persen. Sementara dari seluruh lahan Awak Mas, terdapat potensi cadangan emas sebesar 1,51 juta ons dan output produksi per tahun yang bisa mencapai 100 ribu ons dengan grade emas 1,37 gram per ton.
Saat ini, progres persiapan per Oktober 2025 untuk percobaan produksi tambang emas sudah mencapai 43 persen. Selain itu, biaya proyek yang sudah dikeluarkan per Oktober sudah mencapai USD 234 juta dan progres kompensasi lahan sudah mencapai 99 persen.
Retina juga menuturkan untuk postur Capital Expenditure (Capex) Indika tahun depan, hal yang akan mendapat porsi terbesar adalah tambang emas Awak Mas.
“Untuk Capex 2026, saat ini kita masih dalam tahap finalisasi, tetapi yang bisa kita pastikan itu adalah sebagian besar, majority daripada Capex tahun depan itu adalah untuk penyelesaian pengembangan proyek Awak Mas,” ujarnya.
Dengan adanya tren kenaikan harga emas belakangan, Indika juga berharap hal itu dapat terus berlanjut. Dengan begitu, dampak baiknya akan terasa pada bisnis emas Indika.
Director & Group Chief Corporate Service Officer Indika, Johanes Ispurnawan optimistis di tahun 2026 ketika produksi mulai diuji coba, harga emas berada di kisaran USD 4.000-4.200 per troy ons.
“Sampai dengan saat ini harga emas ini naiknya luar biasa tinggi, kita sampaikan sampai dua kali lipat dari perhitungan awal atau asumsi 2022. Pandangan kami tentunya harapannya ke depan, sambil berdoa terus, harga ini semoga naik terus, nahan terus, sehingga investasi kami di emas Masmindo ini dapat berhasil,” kata Ispurnawan.
Respons Penerapan DMO Emas
Selain itu, Ispurnawan juga merespons dengan rencana penerapan Domestic Market Obligation (DMO) untuk emas. Menurutnya, jika nantinya kebijakan tersebut diterapkan maka Indika siap untuk taat.
Selain itu, jika produksi dan harga emas sesuai proyeksi maka penerapan DMO masih akan berdampak baik bagi project emas yang dikerjakan Indika.
“Kita optimis dengan harga yang berkisar USD 4.000 (troy per ons) dan secara produksi kita itu akan 1.700 an (ons) itu masih proyek ini masih akan sangat baik buat kami. Dan harapannya adalah semuanya sesuai rencana dan secara prinsip apapun ketentuan pemerintah yang ada termasuk dengan DMO, kita akan mengikuti ketentuan-ketentuan yang ada,” kata Ispurnawan.
Sudah Bangun Smelter Pemurnian
Direktur Utama Indika Energy, Azis Armand, juga menuturkan saat ini Indika juga sudah membangun smelter pemurnian secara mandiri.
“Bukan rencana ya, kita sudah sedang membangun, dan kita sudah investasi beberapa kontraktor berkaitan dengan konstruksi, dan tentu saja dengan bekerja sama-sama,” ujarnya.
Terkait nilai konstruksi pembangunan smelter, Azis menjelaskan dana yang dikeluarkan ada di kisaran USD 426 juta. Meski demikian, angka tersebut merupakan perhitungan tahun 2022, ia membuka kemungkinan nilai tersebut sudah naik saat ini.
“Original-nya USD 426 juta, itu angka 2022. (Tapi) ada penundaan, baik itu karena proses kompensasi lahan maupun waktu itu tahun 2024 ya ada landslide, ada natural disaster gitu. Nah ini tentu saja menjadi biaya tambahan konstruksi,” kata Azis.
