Kumparan Logo

Indonesia Bidik Ekspansi Industri ke Pasar Eurasia dalam Innoprom 2026

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bertemu dengan Perdana Menteri Rusia, Mikhail Mishustin. Foto: Nicha Muslimawati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bertemu dengan Perdana Menteri Rusia, Mikhail Mishustin. Foto: Nicha Muslimawati/kumparan

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan status Indonesia sebagai partner country pada pameran industri Innoprom 2026 dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama industri manufaktur, perdagangan, investasi, hingga transfer teknologi dengan negara-negara di kawasan Eurasia.

Agus menjelaskan, Paviliun Indonesia dinilai mampu menampilkan kualitas industri nasional melalui berbagai perusahaan dan eksportir yang ikut berpartisipasi. Bahkan, Perdana Menteri Rusia, Mikhail Mishustin, berharap hadirnya Indonesia sebagai negara partner Innoprom 2026 dapat memperluas akses pasar ke negara-negara di kawasan Eurasia.

“Beliau menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya. Bukan hanya paviliunnya yang sangat baik, tetapi juga perusahaan-perusahaan dan eksportir yang kami tampilkan dinilai sangat menarik,” ujar Agus di sela-sela Innoprom 2026 di Ekaterinburg, Rusia, Senin (6/7).

Agus menjelaskan, pemerintah Indonesia juga memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan serangkaian pertemuan bilateral dengan para menteri yang membidangi sektor industri dari berbagai negara Eurasia.

Menurut Agus, kerja sama tersebut akan semakin terbuka setelah Indonesia dan negara-negara anggota Eurasia menandatangani perjanjian kerja sama ekonomi yang dinilai sebagai game changer dalam memperkuat hubungan kedua kawasan.

“Kami sama-sama memiliki satu platform, yaitu perjanjian yang baru ditandatangani antara Indonesia dan Eurasia. Ini merupakan game changer untuk mempercepat dan memperkuat kerja sama,” katanya.

Ia menilai kawasan Eurasia memiliki potensi pasar yang besar karena dihuni hampir 200 juta penduduk dengan tingkat pendapatan per kapita yang relatif tinggi. Kondisi tersebut membuka peluang ekspor produk manufaktur Indonesia semakin luas.

Namun, Agus menegaskan kerja sama tidak hanya difokuskan pada perdagangan. Pemerintah juga mendorong investasi dua arah, pengembangan teknologi industri, hingga pertukaran tenaga kerja.

“Kita ingin perusahaan-perusahaan Eurasia berinvestasi di Indonesia, begitu juga sebaliknya. Selain itu, kerja sama teknologi juga penting karena beberapa negara di kawasan tersebut memiliki teknologi industri yang maju,” ujarnya.

Menurutnya, pertukaran tenaga kerja juga dapat mempererat hubungan antarmasyarakat (people-to-people) sehingga kerja sama kedua kawasan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat hubungan bilateral secara keseluruhan.

Pertemuan Bilateral dengan Negara-negara di Kawasan Eurasia

Pertemuan bilateral Menperin dengan Wakil Menteri Ekonomi dan Perdagangan Kyrgyztan. Foto: Nicha Muslimawati/kumparan.

Dalam rangkaian Innoprom 2026, Kementerian Perindustrian juga menandatangani sejumlah nota kesepahaman (MoU) dengan negara mitra.

Salah satunya adalah kerja sama dengan Kirgistan di bidang industri halal. Agus menilai sektor halal merupakan pasar global yang terus berkembang sehingga Indonesia harus mengambil peluang tersebut secara maksimal.

“Pengembangan industri halal di Indonesia tidak boleh setengah-setengah. Potensi pasar produk halal dunia terus meningkat setiap tahun sehingga kita tidak boleh tertinggal dari negara lain,” katanya.

Kerja sama dengan Kirgistan diharapkan dapat memperluas akses produk halal Indonesia ke kawasan Eurasia sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri halal global.

Pertemuan bilateral Menperin dengan Menteri Industri Armenia. Foto: Nicha Muslimawati/kumparan.

Sementara itu, dengan Armenia, pemerintah masih memfinalisasi rancangan nota kesepahaman di bidang industri. Agus mengatakan kedua negara telah sepakat untuk segera menyelesaikan pembahasan teknis agar penandatanganan dapat dilakukan dalam waktu dekat, baik di Jakarta maupun di Armenia.

Meski demikian, Agus menekankan bahwa keberhasilan kerja sama internasional tidak diukur dari banyaknya MoU yang ditandatangani, melainkan dari implementasinya.

“MoU hanya merupakan legal framework. Yang paling penting adalah tindak lanjutnya. Kami sepakat mencari program dan proyek yang implementable, executable, serta low hanging fruit, sehingga hasilnya bisa dirasakan dalam satu hingga dua tahun ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, pertemuan dengan Kazakhstan juga diharapkan bisa memperluas akses pasar industri Indonesia ke negara tersebut, baik di sektor agroindustri, migas, hingga elektronik.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia, Jose Antonio Morato Tavares

Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia, Jose Antonio Morato Tavares, mengatakan status Indonesia sebagai partner country Innoprom 2026 menjadi ajang untuk mempromosikan potensi industri nasional, sekaligus membuka peluang kemitraan bisnis dengan Rusia dan negara-negara di kawasan Eurasia.

Dia menjelaskan, proses ratifikasi perjanjian perdagangan bebas Indonesia-Eurasian Economic Union (EAEU) akan semakin membuka peluang peningkatan perdagangan dan investasi antara kedua belah pihak.

"Ini opportunity bagi kita untuk meningkatkan perdagangan maupun investasi antara Indonesia dengan Eurasian Economic Union," jelasnya.

Selain itu, pemerintah juga mendorong sektor strategis yang berpotensi dikembangkan bersama, mulai dari industri pupuk untuk mendukung ketahanan pangan, kerja sama minyak dan gas, pengembangan energi baru dan terbarukan, hingga teknologi energi nuklir sebagai salah satu opsi jangka panjang dalam mendukung pembangunan ekonomi Indonesia.

Kerja sama juga diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan vokasi, dan pertukaran tenaga kerja. Ekaterinburg sebagai lokasi penyelenggaraan Innoprom, merupakan salah satu daerah yang memiliki keunggulan pada sektor metalurgi, manufaktur, dan industri pendukung lainnya.

"Ini bisa dimanfaatkan Indonesia untuk membangun kemitraan industri dan menarik investasi melalui skema joint venture antara pelaku usaha kedua negara," tambahnya.