Kumparan Logo

Indonesia dan Rusia Dorong Sistem Pembayaran dengan Mata Uang Lokal

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Innoprom 2026, Ekateriburg, Rusia. Foto: Nicha Muslimawati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Innoprom 2026, Ekateriburg, Rusia. Foto: Nicha Muslimawati/kumparan

Indonesia dan Rusia mendorong penguatan sistem pembayaran berbasis mata uang lokal sebagai bagian dari upaya memperlancar kerja sama perdagangan dan investasi kedua negara. Langkah tersebut dinilai penting agar berbagai kesepakatan bisnis yang tercapai tidak terhambat oleh kendala transaksi lintas negara.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, penguatan infrastruktur pembayaran menjadi salah satu fondasi utama dalam membangun hubungan ekonomi Indonesia-Rusia yang lebih erat. Selain memperkuat perdagangan, kedua negara juga tengah mendorong peningkatan investasi dua arah.

“Dalam sistem pembayaran, kami juga mendorong penggunaan mata uang lokal serta mekanisme pembayaran BRICS. Ini adalah soal infrastruktur ekonomi, bukan politik,” ujar Agus dalam Forum Bisnis Indonesia-Rusia dalam rangkaian INNOPROM 2026, Ekaterinburg, Rusia, Selasa (7/7).

Menurut Agus, sistem pembayaran yang andal merupakan syarat penting bagi keberhasilan kerja sama ekonomi. Ia menegaskan, nilai investasi maupun perdagangan sebesar apa pun tidak akan memberikan manfaat apabila proses pembayaran antarnegara tidak dapat diselesaikan secara lancar.

“Kesepakatan bisnis sebesar apa pun tidak akan berarti apabila pembayaran tidak dapat diselesaikan,” katanya.

Agus mengatakan, Indonesia ingin membangun hubungan ekonomi yang lebih kuat dengan Rusia melalui investasi, bukan hanya perdagangan barang. Pemerintah juga berharap perusahaan-perusahaan manufaktur Indonesia dapat mulai berekspansi ke Rusia, terutama di sektor makanan halal, kosmetik, dan farmasi, dengan memanfaatkan Rusia dan kawasan Uni Ekonomi Eurasia sebagai pintu masuk menuju pasar Asia Tengah.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bertemu dengan Perdana Menteri Rusia, Mikhail Mishustin. Foto: Nicha Muslimawati/kumparan

Sebaliknya, perusahaan Rusia juga didorong untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi dan gerbang menuju pasar ASEAN yang beranggotakan lebih dari 700 juta penduduk.

“Hubungan investasi, dengan modal, pabrik, dan lapangan kerja yang tertanam di negara masing-masing, jauh lebih kokoh dibanding sekadar hubungan perdagangan. Itulah hubungan yang ingin kita bangun bersama,” ujarnya.

Agus mengatakan, dukungan pembiayaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Kamar Dagang dan Industri Rusia (RSPP), serta Komite Bisnis Bilateral siap mempertemukan pelaku usaha kedua negara sekaligus membantu penyederhanaan proses administrasi.

Dampak Sanksi Barat

Terdapat perubahan signifikan dalam sistem pembayaran di Rusia sejak negara tersebut dijatuhi sanksi ekonomi oleh Amerika Serikat dan sejumlah negara barat setelah invasi ke Ukraina pada 2022.

Sejak saat itu, jaringan pembayaran internasional AS, seperti Visa dan Mastercard, berhenti beroperasi di Rusia. Akibatnya, kartu yang diterbitkan di luar Rusia tidak dapat digunakan untuk bertransaksi di dalam negeri, sementara transaksi domestik mengandalkan sistem pembayaran nasional Rusia ataupun uang tunai rubel.

Kondisi tersebut membuat mekanisme pembayaran alternatif, termasuk penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral, menjadi semakin relevan untuk mendukung kelancaran transaksi bisnis lintas negara.

Melalui penguatan sistem pembayaran tersebut, Indonesia berharap kerja sama ekonomi dengan Rusia tidak hanya meningkatkan nilai perdagangan, tetapi juga mendorong investasi, alih teknologi, serta pengembangan industri manufaktur yang memberikan nilai tambah bagi kedua negara.