Kumparan Logo

Indosat Kantongi Laba Bersih Rp 4,72 Triliun di 2022

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kantor pusat Indosat Ooredoo Hutchison di Jakarta. Foto: Dok. Indosat Ooredoo Hutchison
zoom-in-whitePerbesar
Kantor pusat Indosat Ooredoo Hutchison di Jakarta. Foto: Dok. Indosat Ooredoo Hutchison

PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT), melaporkan kinerja keuangannya untuk kuartal keempat dan satu tahun penuh yang berakhir pada 31 Desember 2022.

Perusahaan membukukan laba bersih senilai Rp 4,72 triliun atau turun 30 persen sekitar Rp 2,02 triliun dari Rp 6,57 triliun di tahun 2021.

Penurunan ini disebabkan peningkatan beban operasional, peningkatan beban depresiasi dan amortisasi, serta peningkatan biaya finansial sebagai dampak dari penggabungan dua perusahaan yang diimbangi oleh peningkatan pendapatan.

Total pendapatan tercatat naik sebesar 48,9 persen YoY menjadi sebesar Rp 46,75 triliun dan EBITDA sebesar Rp 19,46 triliun atau naik sebesar 40,2 persen, imbas dari penggabungan usaha dan momentum operasional yang kuat.

Layanan selular, MIDI, dan Telekomunikasi Tetap milik Indosat masing-masing memberikan kontribusi sebesar 86,1 persen, 12,2 persen, dan 1,7 persen terhadap pendapatan usaha konsolidasian yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2022.

Dengan kekuatan dari dua merk serta penggabungan bisnis, pelanggan perusahaan meningkat sebesar 62,5 persen menjadi 102,2 juta pelanggan pada tahun 2022.

Peningkatan pelanggan ini sedikit berdampak pada penurunan Average Revenue per User (ARPU) menjadi Rp 33,9 ribu di tahun 2022, dari sebelumnya Rp 34,4 ribu pada tahun 2021.

Indosat Ooredoo Hutchison. Foto: Muhammad Fikrie/kumparan

Perluasan basis pelanggan menghasilkan pertumbuhan trafik data yang kuat sebesar 91,8 persen YoY pada tahun 2022. Selain itu, cakupan jaringan perusahaan juga meningkat seiring peningkatan jumlah BTS 4G yang mencapai 137 ribu, sehingga mampu menangani peningkatan trafik yang tinggi.

Beban-beban senilai Rp 36,16 triliun pada tahun 2022, naik sebesar Rp 15,12 triliun atau 71,9 persen lebih tinggi dibandingkan tahun 2021. Peningkatan ini utamanya diakibatkan oleh peningkatan di seluruh beban akibat penggabungan dua perusahaan.

Pengeluaran belanja modal pada tahun 2022 senilai Rp 12,01 triliun tidak termasuk Rp 10,02 triliun aset hak guna. Sekitar 93,3 persen dari pengeluaran modal ini dialokasikan untuk bisnis selular untuk mendukung permintaan layanan data dan sisanya dialokasikan pada pengeluaran modal untuk MIDI, infrastruktur dan TI.

Per tanggal 31 Desember 2022, Perusahaan memiliki utang pokok tidak termasuk biaya transaksi yang belum diamortisasi dan liabilitas sewa) senilai Rp 21,32 triliun. Posisi kas perusahaan per tanggal 31 Desember 2022 adalah sebesar Rp 9,5 triliun dengan utang bersih sebesar Rp 11,81 triliun.