Kumparan Logo

Indra Karya Diuntungkan Adanya RUU Sumber Daya Air

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Distribusi Air Minum Turun Selama Lebaran (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Distribusi Air Minum Turun Selama Lebaran (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Pemerintah tengah mengkaji Rancangan Undang Undang (RUU) Sumber Daya Air Minum yang memprioritaskan BUMN dan BUMD dalam pengusahaan atas air. Hal ini disambut positif oleh Direktur Utama PT Indra Karya (Persero) Milfan Rantawi.

"Jadi memang kita sengaja fokus dalam industri air biar pas undang-undang itu keluar lalu dilihat siap enggak nih," katanya saat ditemui di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Kamis (22/11).

Menurut Milfan, bisnis air minum di Indonesia saat ini sudah mulai banyak bermunculan. Tercatat hingga saat ini sudah ada sekitar 100 perusahaan air minum dari dalam dan luar negeri dengan skala yang besar dan juga kecil.

Sementara, khusus untuk BUMN, baru ada dua Badan Usaha yang menggarapnya. Pertama adalah PT Indra Karya (Persero) yang memiliki bisnis air minum berlabel InFresh dan Perum Jasa Tirta 2 yang memiliki bisnis air minum bermerek Jatiluhur. Sebelumnya, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) juga pernah memproduksi air mineral dalam kemasan (AMDK) dengan merek Raja Air.

Dirut PT Indra Karya Milfan Rantawi.
 (Foto: Elsa Toruan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Dirut PT Indra Karya Milfan Rantawi. (Foto: Elsa Toruan/kumparan)

"Banyak seratusan nyampe mungkin. Kalau BUMN kan cuma dua kita sama Jatiluhur. Masih banyak karena kan cuma dua Jati Luhur sama Indra Karya. Kita sengaja buat ini karena kan ada undang-undang baru. Dalam undang-undang tersebut pemerintah akan lebih memperbanyak porsi BUMN," ucapnya.

Milfan menambahkan, saat ini saja bisnis air minumnya sudah lumayan berkembang pesat, apalagi jika nanti undang-undang tersebut dikeluarkan oleh pemerintah. Pada saat ini, diperkirakan penjualan air mineral Indra Karya sebanyak 5.000 galon per hari dengan nilai mencapai Rp 15 miliar.

Untuk itu, Milfan optimistis bisnis AMDK miliknya akan bisa balik modal dalam tempo waktu 5 tahun. Apalagi, pertumbuhan bisnis AMDK setiap tahun sekitar 10 hingga 12 persen.

"5.000 galon per hari produksinya. Kalau bisa dijual 100 persen salesnya sekitar Rp 15 miliar. Balik modal kira-kira sekitar 5 tahun," tutupnya.