Kumparan Logo

Industri & Akademisi Kembangkan Kayu Ramah Lingkungan, Usia Pakai Bisa 50 Tahun

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dewan Penasehat ISWA,Soewarni. Foto: ISWA
zoom-in-whitePerbesar
Dewan Penasehat ISWA,Soewarni. Foto: ISWA

Asosiasi Pengusaha Kayu Gergajian dan Kayu Olahan Indonesia atau Indonesian Sawmill and Woodworking Association (ISWA) dan akademisi melakukan inovasi pada sektor industri kayu, sebagai solusi masa depan industri kehutanan dan woodworking di Indonesia.

Dewan Penasehat ISWA, Soewarni, menyampaikan tantangan industri kayu ke depan adalah menciptakan teknologi berkelanjutan yang mampu memperpanjang usia pakai, meningkatkan daya tahan, sekaligus menjaga stabilitas dimensi.

Soewarni menegaskan bahwa Archify Live Jakarta 2025 merupakan platform penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, mulai dari industri woodworking, furnitur, hingga arsitektur dan kontraktor. "Dengan dukungan lembaga sertifikasi dan para pengembang, acara ini diharapkan menjadi motor edukasi, inovasi, sekaligus kolaborasi demi mewujudkan industri kayu Indonesia yang maju, berdaya saing global, dan tetap menjaga kelestarian alam," kata dia dalam keterangannya, Minggu (28/9).

Bekerja sama dengan IPB University, para pelaku industri kayu menerapkan teknologi ramah lingkungan, kayu cepat tumbuh, dan hasil hutan tanaman dapat ditingkatkan kualitasnya menjadi material premium yang awet, stabil, dan bernilai tinggi.

Dalam ajang Archify Live Jakarta 2025, para pengusaha di sektor industri menegaskan pentingnya transformasi menuju kayu berkelanjutan. Teknologi modifikasi thermal dan kimia ramah lingkungan memungkinkan kayu bertahan hingga 25 tahun, bahkan 50 tahun jika digunakan di dalam ruangan. Peningkatan signifikan ini sekaligus menjawab keraguan pasar terhadap ketahanan kayu yang selama ini rentan rayap maupun kelembaban.

Wakil Ketua Umum ISWA Bidang R&D dan Regulasi, Jimmy Chandra, menyebut inovasi ini bukan sekadar strategi industri, tetapi juga langkah strategis menjaga keberlanjutan hutan. “Kayu yang semula hanya bertahan tiga tahun kini bisa berumur puluhan tahun. Ini peluang besar bagi pembangunan berkelanjutan di Indonesia,” ujar Jimmy.

Ilustrasi pengembangan produk kayu. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock

Archify Live Jakarta 2025 pun menjadi ajang strategis untuk mempertemukan pelaku industri kayu, arsitek, kontraktor, hingga pengembang. Dengan kolaborasi lintas sektor, pemanfaatan kayu ramah lingkungan diharapkan makin luas, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam industri kayu berkelanjutan dunia.

Ketua Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Istie Sekartining Rahayu, menekankan pentingnya sinergi riset dan industri. “Metode yang kami kembangkan membuat kayu lebih kuat, tahan jamur, dan stabil, tanpa dampak negatif terhadap lingkungan,” jelasnya.

Salah satu pionir dalam penerapan teknologi ini adalah PT Jaya Cemerlang Industry dengan brand IDOLA™, yang berhasil mengolah kayu plantation menjadi material premium. Kolaborasi riset ini menghasilkan produk ramah lingkungan dengan konsep zero waste, efisiensi energi, dan minim limbah.

Tak hanya soal teknis, inovasi kayu modifikasi juga membawa manfaat ekonomi. Nilai tambah tercipta bagi petani hutan tanaman, industri furnitur, hingga sektor arsitektur dan konstruksi.

"Dengan pemanfaatan kayu rekayasa, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada kayu hutan alam, menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus memperkuat daya saing di rantai pasok global," tambahnya.