Industri Baja Sempat Jatuh, Bos Krakatau Steel Sebut Kini Mulai Pulih

Industri baja mulai bangkit perlahan setelah sebelumnya turun cukup signifikan akibat pandemi COVID-19. Hal tersebut tercermin dari peningkatan produksi baja di Asia, termasuk Indonesia.
Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan berdasarkan data Internasional Iron and Steel Institute, industri baja global mulai bangkit setelah sempat terpuruk pada April 2020 lalu.
“Berdasarkan data internasional iron and steel institute, industri baja global mulai menunjukkan pemulihan. Produksi baja mentah di negara Asia telah meningkat sejak terjadi penurunan pada April 2020,” ungkap Silmy dalam Webinar Outlook Kebutuhan Baja Indonesia, Kamis (22/10).
Di India misalnya produksi baja pada bulan Agustus 2020 mengalami kenaikan 160 persen jika dibandingkan dengan produksi pada April 2020. Sementara untuk ASEAN, produksi baja di Vietnam juga mengalami kenaikan sebesar 25 persen dalam periode yang sama.
Tidak hanya dari sisi produksi, Silmy mengatakan konsumsi baja juga menunjukkan prospek positif pada kuartal III 2020. Hal ini ditandai dengan meningkatnya permintaan minyak. Pada Juli 2020 permintaan minyak naik sebesar 16 persen dibanding permintaan pada April 2020.
Adapun permintaan minyak meningkat karena adanya pelonggaran lockdown sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas. Kondisi ini pun akhirnya menggairahkan kembali industri otomotif yang selama ini menjadi konsumen produk baja.
“Permintaan minyak naik seiring meningkatnya aktivitas kendaraan mendekati Januari sebelum COVID-19 karena adanya relaksasi lockdown. Hal ini mendorong pemulihan sektor otomotif seiring pabrik yang mulai beroperasi dan volume penjualan kendaraan global yang meningkat,” ujarnya.
Selain dari industri otomotif, konsumsi baja juga meningkat sejalan dengan berjalannya kembali proyek-proyek pembangunan di Indonesia. Silmy pun mengatakan pihaknya sangat memanfaatkan momentum tersebut untuk menebus kekosongan penjualan yang sempat terjadi pada kuartal I dan II.
“Maka industri baja nasional juga ada peningkatan dan juga kita sedang berupaya semaksimal mungkin mengisi kekosongan yang pada kuartal II, sangat minim pasar baja di Indonesia,” tandasnya.
