Industri Manufaktur Jadi Sinyal Positif Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026
·waktu baca 4 menit

Tren penguatan industri manufaktur menjadi salah salah satu sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026. Perbaikan kinerja industri manufaktur ini dinilai menjadi salah satu penopang Produk Domestik Bruto (PDB).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi industri pengolahan atau manufaktur tercatat meningkat dalam beberapa periode terakhir. Pada 2022, kontribusi manufaktur terhadap PDB sekitar 18,34 persen, naik menjadi 18,67 persen pada 2023, lalu naik ke 18,98 persen pada 2024, dan mencapai sekitar 19,07 persen pada 2025.
"Tren ini mengindikasikan pemulihan yang semakin solid pascapandemi, sekaligus memperkuat peran manufaktur dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Staf Khusus Menteri dan Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief, Rabu (29/4).
Secara historis, kontribusi industri manufaktur memang sempat berada di level yang lebih tinggi, yakni di kisaran 28–29 persen pada awal 2000-an. Namun, dalam satu dekade terakhir, kontribusinya cenderung stabil di kisaran 19–20 persen. Meski terlihat menurun secara proporsi, hal ini tidak sepenuhnya mencerminkan pelemahan sektor industri, melainkan dipengaruhi oleh perubahan struktur ekonomi dan metode perhitungan PDB.
Perubahan metodologi penghitungan PDB dari seri 2000 ke seri 2010 menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi dinamika tersebut. Dalam metode lama, nilai tambah dihitung menggunakan harga produsen, yaitu harga setelah intervensi pemerintah seperti pajak dan subsidi.
Sementara pada metode baru, perhitungan menggunakan harga dasar, yang mencerminkan nilai keekonomian barang dan jasa sebelum intervensi pemerintah. Penyesuaian ini membuat struktur kontribusi antar sektor menjadi lebih komprehensif dan realistis dalam menggambarkan aktivitas ekonomi nasional.
Selain itu, terjadi perubahan signifikan dalam cakupan lapangan usaha. Pada periode 2001–2009, pembentukan PDB nasional hanya didasarkan pada sembilan lapangan usaha utama. Namun sejak 2010 hingga 2024, cakupan tersebut diperluas menjadi 21 kategori lapangan usaha. Ekspansi klasifikasi ini meningkatkan kontribusi sektor lain seperti perdagangan, konstruksi, pertambangan, serta jasa keuangan dan real estate, yang secara relatif menurunkan porsi industri pengolahan.
Pada 2010, misalnya, penurunan kontribusi industri pengolahan turut dipengaruhi oleh lonjakan nilai PDB pada sejumlah sektor lain, termasuk listrik dan gas, perdagangan besar, konstruksi, hingga jasa perusahaan . Meski demikian, industri pengolahan tetap menjadi sektor dengan kontribusi terbesar dalam struktur PDB, bahkan berada di kisaran 22–24 persen pada tahun tersebut.
Penguatan kembali kontribusi manufaktur dalam beberapa tahun terakhir didorong oleh kombinasi pemulihan ekonomi pascapandemi, efektivitas kebijakan hilirisasi industri, serta kuatnya konsumsi domestik. Hilirisasi terbukti meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri, sementara permintaan domestik yang tetap terjaga menjadi bantalan bagi kinerja sektor ini di tengah ketidakpastian global.
Dengan tren kenaikan yang berlanjut hingga 2025 dan awal 2026, industri manufaktur dinilai tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional sekaligus indikator penting dalam membaca arah pertumbuhan ekonomi ke depan. Momentum ini juga memperkuat optimisme bahwa sektor industri akan terus menjadi motor utama dalam mendorong ekspansi ekonomi Indonesia.
Indeks Kepercayaan Industri (IKI)
Pada Maret 2026, IKI masih berada pada fase ekspansif. Meskipun mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya. IKI Maret 2026 tercatat sebesar 51,86 atau masih di atas ambang batas ekspansi 50. Secara tahunan, IKI Maret 2026 juga tercatat lebih rendah 1,12 poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 52,98.
Febri menjelaskan, dinamika industri pada Maret dipengaruhi oleh faktor musiman, terutama berlalunya momentum hari besar keagamaan seperti Lebaran dan Imlek, serta dampak eksternal berupa krisis logistik energi di Timur Tengah akibat konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 16 subsektor masih mencatatkan ekspansi dengan kontribusi mencapai 78,3 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Subsektor dengan kinerja tertinggi antara lain industri percetakan dan reproduksi media rekaman serta industri kendaraan bermotor, trailer, dan semi-trailer.
Sementara itu, tujuh subsektor mengalami kontraksi, yakni industri minuman, pengolahan tembakau, kayu dan barang dari kayu, bahan kimia, barang galian bukan logam, komputer dan barang elektronik, serta peralatan listrik.
