Kumparan Logo

Industri Nikel Dukung Bursa Mineral, Dorong Indonesia Punya Acuan Harga Sendiri

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja mengolah forenikel di smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) Harita Nickel, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Selasa (16/9/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja mengolah forenikel di smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) Harita Nickel, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Selasa (16/9/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Pemerintah akan mulai mengoperasikan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis pada 1 Januari 2027. Pembentukan bursa tersebut diharapkan memperkuat ekosistem perdagangan mineral di dalam negeri, meningkatkan transparansi transaksi, sekaligus mendorong terbentuknya referensi harga komoditas Indonesia.

Rencana tersebut mendapat dukungan dari pelaku industri nikel. Ketua Umum Federasi Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah mengatakan industri mendukung langkah pemerintah membangun sistem perdagangan komoditas yang lebih transparan.

Menurut Arif, pelaku industri juga berkepentingan memastikan sumber daya mineral Indonesia diperdagangkan secara sehat dan terhindar dari praktik under-invoicing maupun transfer pricing.

"Siapa sih yang ridha sumber daya kita ada under-invoicing kemudian transfer pricing, kan enggak juga. Kita enggak ridha juga. Dari sisi asosiasi, dari FINI kami dukung," ujar Arif dalam keterangannya, Jumat (4/9).

Sebagai bentuk dukungan, FINI bersama sejumlah asosiasi lainnya telah membentuk task force untuk memberikan masukan kepada Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam penyusunan platform yang tengah dikembangkan.

Arif menilai pembentukan referensi harga menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan ekosistem perdagangan mineral nasional. Kehadiran Bursa Mineral Indonesia dinilai dapat membuka jalan bagi Indonesia untuk memiliki acuan harga komoditas sendiri.

"Bursa mineral Indonesia saya kira tujuannya ke situ ya kalau apa yang disampaikan Pak Prabowo. Kita harus menentukan itu," kata Arif.

Pembentukan acuan harga domestik menjadi penting mengingat Indonesia merupakan salah satu produsen utama berbagai komoditas mineral dunia. Dengan memiliki mekanisme perdagangan dan referensi harga sendiri, posisi Indonesia diharapkan tidak lagi sebatas mengikuti harga yang terbentuk di pasar internasional.

Bursa mineral juga diharapkan memperkuat posisi perusahaan nasional yang memiliki portofolio komoditas strategis, termasuk PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID sebagai holding industri pertambangan nasional.

Ketua DPR Puan Maharani berfoto bersama Wakil Ketua DPR Sari Yuliati (kiri) dan Calon Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis OJK Sarjito (kanan) dalam Rapat Paripurna di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Penguatan transparansi transaksi dan pembentukan referensi harga di dalam negeri dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya tawar industri mineral nasional dalam rantai perdagangan global.

Sementara itu, CEO Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis nantinya dapat berjalan beriringan dengan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Menurut Rosan, bursa mineral akan menjadi mekanisme perdagangan yang memperkuat transparansi sekaligus mendukung pembentukan harga secara terbuka.

"Bursa mineral ini kan sifatnya lebih spot, spot market," kata Rosan.

Rosan menjelaskan pengembangan fitur bursa perlu disesuaikan dengan karakteristik perdagangan mineral. Kehadiran bursa tersebut diharapkan dapat meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola transaksi komoditas.

Mekanisme tersebut juga memungkinkan proses pembentukan harga dapat dilihat secara lebih terbuka oleh berbagai pihak. Dengan demikian, bursa mineral dapat melengkapi instrumen dalam ekosistem perdagangan mineral yang tengah dibangun pemerintah.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengatakan pemerintah ingin membangun Bursa Mineral dan Komoditas Strategis sebagai instrumen perdagangan sendiri. Bursa tersebut diharapkan menjadi fondasi pembentukan Indonesia Reference Price sehingga Indonesia memiliki referensi harga untuk berbagai komoditas utama ekspor.

Prabowo menilai langkah tersebut penting karena Indonesia selama puluhan tahun telah menjadi salah satu produsen berbagai komoditas penting dunia, mulai dari nikel, timah, batu bara hingga emas.

Besarnya produksi tersebut, menurut Prabowo, seharusnya diikuti dengan posisi Indonesia yang lebih kuat dalam perdagangan dan pembentukan harga komoditas global.

"Kita bukan hanya ingin menjadi penghasil komoditas dunia, kita harus ikut menentukan harga komoditas dunia. Kita ingin jadi Indonesia tempat komoditas diperdagangkan," ujar Prabowo.

Melalui pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis, pemerintah ingin Indonesia tidak lagi sekadar menjadi price taker di pasar global. Penguatan infrastruktur perdagangan dan pembentukan referensi harga dari dalam negeri diharapkan menjadi fondasi bagi Indonesia untuk meningkatkan daya tawar sebagai salah satu produsen utama komoditas strategis dunia.

instagram embed