Kumparan Logo

Inflasi April Diprediksi Turun, Faktor Energi Masih Perlu Diwaspadai

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja melakukan bongkar muat beras di kompleks pertokoan beras Jalan Dargo, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (1/4/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja melakukan bongkar muat beras di kompleks pertokoan beras Jalan Dargo, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (1/4/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memproyeksikan tekanan inflasi mulai mereda pada April 2026 setelah lonjakan musiman selama Ramadan dan Idulfitri. Meski demikian, ia mengingatkan risiko inflasi ke depan tetap perlu diwaspadai, terutama dari faktor energi dan nilai tukar.

“Untuk inflasi April 2026, saya memperkirakan tekanan harga akan menurun dibandingkan Maret 2026. Inflasi tahunan diperkirakan turun dari 3,48 persen menjadi sekitar 2,40 persen, sedangkan inflasi bulanan turun dari 0,41 persen menjadi sekitar 0,11 persen,” kata Josua kepada kumparan, Senin (4/5).

Penurunan inflasi ini didorong oleh normalisasi permintaan pascalebaran. Setelah konsumsi meningkat tajam pada Maret, tekanan harga pada sejumlah komponen seperti pangan, transportasi, hingga kebutuhan hari raya mulai mereda pada April. Selain itu, efek basis harga rendah pada tahun lalu juga mulai berkurang, termasuk dampak diskon tarif listrik di awal 2025.

Inflasi inti juga diperkirakan mengalami moderasi seiring melandainya permintaan masyarakat. Kondisi ini mencerminkan aktivitas konsumsi yang kembali ke pola normal setelah periode puncak musiman.

Meski demikian, Josua menilai risiko inflasi belum sepenuhnya hilang. Harga pangan bergejolak memang diproyeksikan menurun seiring masuknya masa panen, terutama pada komoditas seperti daging ayam, telur, dan cabai. Namun, tekanan dari komponen harga yang diatur pemerintah justru meningkat.

Suasana pengisian bahan bakar terlihat di salah satu SPBU di Jakarta, Sabtu (18/4/2026), di tengah penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) oleh PT Pertamina (Persero). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Kenaikan harga BBM nonsubsidi, LPG nonsubsidi, serta berakhirnya diskon tarif angkutan udara menjadi faktor pendorong inflasi dari sisi administrasi pemerintah. Di sisi eksternal, konflik di Timur Tengah turut menekan harga minyak global, yang berpotensi merambat ke biaya produksi dan transportasi domestik.

“Jadi, gambaran inflasi April adalah inflasi umum menurun, tetapi risiko ke depan tetap perlu diwaspadai karena pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi dapat menambah tekanan biaya produksi, transportasi, dan subsidi energi,” jelasnya.

Di sisi eksternal, kinerja neraca dagang Indonesia pada Maret 2026 diperkirakan masih mencatatkan surplus yang cukup kuat. Josua memperkirakan surplus meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

“Untuk neraca dagang Maret 2026, surplus diperkirakan melebar menjadi sekitar USD 2,77 miliar,” kata dia.

Kenaikan surplus ini didorong oleh perbaikan permintaan dari mitra dagang, yang mulai meningkatkan pembelian untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan global. Selain itu, harga komoditas unggulan seperti energi, batu bara, dan minyak sawit juga memberikan kontribusi positif terhadap nilai ekspor.

video story embed

Namun, secara tahunan, kinerja ekspor masih cenderung stagnan akibat faktor musiman libur Idulfitri. Di sisi lain, impor justru menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi, mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi domestik.

Impor Maret diperkirakan tumbuh sekitar 8,11 persen secara tahunan, didorong oleh kebutuhan bahan baku dan barang modal, serta kenaikan harga minyak. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun surplus dagang tetap terjaga, tekanan terhadap neraca eksternal mulai meningkat.

Josua mengingatkan, pertumbuhan impor yang lebih cepat dibanding ekspor perlu dicermati karena dapat berdampak pada neraca transaksi berjalan, terutama jika tekanan harga energi global dan pelemahan rupiah berlanjut.

Secara keseluruhan, ia melihat kondisi makroekonomi Indonesia masih relatif solid, dengan inflasi yang mereda dan surplus dagang yang terjaga. Namun, risiko eksternal seperti kenaikan harga energi, nilai tukar rupiah, dan ketidakseimbangan perdagangan tetap menjadi faktor yang perlu diantisipasi dalam kebijakan ke depan.