Inflasi Juni Diprediksi Tembus 3 Persen
·waktu baca 2 menit

Sejumlah ekonom memproyeksi inflasi bulan Juni 2023 masih berada di kisaran 3 persen. Inflasi diproyeksi didorong oleh komponen harga yang bergejolak dan inflasi inti.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan inflasi Juni akan berada di kisaran 3,64 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Sementara secara bulanan, inflasi berada di 0,41 persen.
Secara rinci, inflasi harga bergejolak cenderung meningkat sepanjang bulan Juni, antara lain beras (+0,8 persen mtm); daging ayam (+6,1 persen mtm); telur ayam (+2,3 persen mtm); bawang putih (+4,2 persen mtm); cabai merah (+3,4 persen mtm); cabai rawit (+7,1 persen mtm).
"Inflasi inti diperkirakan berkisar 2,67 persen yoy dari bulan sebelumnya 2,66 persen yoy. Sementara itu, inflasi harga diatur pemerintah diperkirakan akan cenderung tetap rendah sejalan dengan turunnya harga BBM Pertamax dari Rp 13.300 per liter menjadi Rp 12.400 per liter," kata Josua kepada kumparan, Senin (3/7).
Josua memperkirakan hingga akhir tahun 2023, inflasi akan terjangkar dalam kisaran 3 persen-3,5 persen yoy.
Dihubungi terpisah, Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan inflasi Juni 2023 sebesar 0,27 persen MoM atau naik dari inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 0,09 persenMoM
"Kenaikan ini seiring dengan kenaikan harga pangan dan tarif transportasi," pungkasnya.
Namun meski inflasi secara bulanan meningkat, Faisal mengatakan tingkat inflasi tahunan makin melandai pada bulan Juni 2023.
Dari hitungannya, inflasi pada Juni 2023 akan berada di kisaran 3,65 persen yoy atau melandai dari capaian inflasi bulan Mei 2023 yang sebesar 4,00 persen yoy.
Melandainya inflasi seiring dengan perlambatan inflasi inti pada Juni 2023. Ia memperkirakan, inflasi inti Juni 2023 sebesar 2,59 persen yoy) atau lebih rendah dari 2,66 persen yoy pada bulan Mei 2023.
"Seiring dengan harga emas yang turun dan menurunnya harga pangan yang terhitung dalam perhitungan inflasi inti, karena suplai yang memadai," jelas Faisal.
