Ini Daftar BUMN yang Bakal Disuntik Modal Negara Triliunan Rupiah
·waktu baca 2 menit

Menteri BUMN Erick Thohir mengusulkan permintaan tambahan anggaran Penyertaan Modal Negara (PMN) 2021 untuk tiga BUMN senilai Rp 33,9 triliun. Sementara untuk tahun 2022, Erick juga mengusulkan anggaran PMN senilai Rp 72,449 triliun bagi 12 BUMN.
Menariknya, satu dari 12 BUMN calon penerima PMN tersebut merupakan perusahaan merugi yang justru akan jadi induk holding pariwisata. Berikut kumparan merangkum soal daftar BUMN yang bakal dapat suntikan modal triliunan rupiah.
Tiga BUMN Diusulkan Dapat PMN Tambahan Di 2021
Erick mengusulkan ada tiga BUMN yang dapat tambahan modal negara yaitu PT Waskita Karya Tbk sebesar Rp 7,9 triliun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) sebesar Rp 7 triliun, dan PT Hutama Karya (Persero) sebesar Rp 19 triliun.
“Seperti di paparan, bahwa untuk 2021 kebutuhan PMN tambahan adalah sebesar Rp 33,9 triliun. Untuk Waskita Rp 7,9 triliun, KAI Rp 7 triliun dan Hutama Karya Rp 19 triliun,” ujar Erick dalam Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (14/7).
Menurut Erick tambahan modal tersebut akan digunakan masing-masing BUMN untuk menyelesaikan proyek yang sifatnya penugasan dari pemerintah. Misalnya bagi Waskita Karya tambahan PMN akan digunakan untuk memperkuat permodalan dalam rangka restrukturisasi.
Sedangkan untuk KAI, tambahan PMN akan digunakan untuk pengerjaan Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodetabek dan proyek Kereta Cepat. Untuk mendukung penugasan Proyek Strategi Nasional LRT, KAI butuh tambahan dana sebesar Rp 2,7 triliun. Sedangkan untuk pemenuhan base equity Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), KAI butuh tambahan modal sebesar Rp 4,3 triliun. Sementara tambahan PMN untuk Hutama Karya akan dialokasikan untuk dukungan pembangunan jalan tol Trans Sumatra.
Sebanyak 12 BUMN Akan Dapat PMN Lagi Tahun Depan Senilai Rp 72,4 T
Di 2022 mendatang, Erick juga kembali mengusulkan anggaran PMN senilai Rp 72,4 triliun untuk 12 BUMN. Rinciannya yaitu:
Hutama Karya Rp 31,350 triliun
Aviata Rp 9,318 triliun
PLN Rp 8,231 triliun
Bank BNI Rp 7 triliun
KAI Rp 4,1 triliun
Waskita Karya Rp Rp 3 triliun
IFG (BPUI) Rp 2 triliun
Adhi Karya Rp 2 triliun
Perumnas Rp 2 triliun
Bank BTN Rp 2 triliun
RNI Rp 1,2 triliun
Damri Rp 250 miliar.
Erick menjelaskan, nantinya secara keseluruhan sebanyak 80 persen modal yang diterima merupakan penugasan penyelesaian proyek negara dan restrukturisasi 6,9 persen.
"Jadi kalau di kumulatif 87 persen adalah hal-hal yang tidak bisa terelakkan," katanya saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) virtual bersama Komisi VI DPR RI, Kamis (8/7).
PT Penas, BUMN Rugi Bakal Dapat Suntikan Modal Rp 9,3 T
Menariknya, satu dari 12 BUMN calon penerima PMN adalah PT Penas, BUMN yang merugi dan hanya punya 5 karyawan, selangkah lagi resmi menjadi induk Holding BUMN Pariwisata. Nama perusahaan kini sudah diganti menjadi PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) dan bakal mendapatkan suntikan dari negara Rp 9,31 triliun.
PT Aviasi Pariwisata Indonesia juga harus melaksanakan aktivitas kantor pusat, investasi langsung atau tidak langsung, aktivitas restrukturisasi perusahaan/aset, dan aktivitas konsultasi manajemen.
Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo mengatakan saat ini proses inbreng 5 BUMN tengah dilakukan.
“Penas sudah melakukan perubahan nama, diharapkan ini kita akan melakukan launching di akhir Juli ini mengenai fungsi baru dari Penas ini, termasuk kita lanjutkan dengan inbreng saham-saham perusahaan di bawahnya,” paparnya dalam rapat kerja dengan Komisi VI, Kamis (8/7).
Dari total PMN Rp 9,318 triliun yang diusulkan untuk holding ini, Tiko menyebut sebanyak Rp 3,5 triliun di antaranya untuk penguatan modal dan pengembangan infrastruktur maskapai yaitu Garuda Indonesia.
“Yang Rp 3,5 triliun ini terkait dengan permasalahan Garuda di mana kita dengan Kementerian Keuangan saat ini ingin ada satu standby facility yang nantinya digunakan untuk proses restrukturisasi Garuda,” ujarnya.
