Kumparan Logo

Ini Filosofi Keselamatan JR East, Kecelakaan Sakuragicho 1951 Jadi Titik Balik

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peserta training JICA dari Dirjen Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub menghadiri kuliah yang diisi oleh stakeholder perkeretaapian Jepang Foto: Nadia Riso/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Peserta training JICA dari Dirjen Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub menghadiri kuliah yang diisi oleh stakeholder perkeretaapian Jepang Foto: Nadia Riso/kumparan

Keselamatan menjadi aspek yang penting dalam sektor perkeretaapian di Jepang. JR East yang merupakan salah satu operator kereta api terbesar di Jepang menekankan bahwa keselamatan merupakan prioritas utama.

"Terkait keselamatan, sejumlah perusahaan hanya mengatakan 'keselamatan, keselamatan' dan tidak melakukan hal lainnya. Sementara kami di JR East, termasuk para petinggi, ketika kami bertemu dan berbicara, kami selalu berbicara mengenai keselamatan dan apa yang harus kami lakukan sebagai dasarnya. Sehingga, kami semua sangat menyadari pentingnya keselamatan," kata perwakilan JR East dalam sesi kuliah untuk peserta program pelatihan JICA (Japan International Cooperation Agency) yang diikuti DJKA Kementerian Perhubungan yang digelar di Tokyo, Senin (31/8).

Kesadaran akan pentingnya aspek keselamatan tidak lahir begitu saja. Titik balik dari pentingnya aspek keselamatan "lahir" dari salah satu kecelakaan kereta paling mematikan dalam sejarah Jepang modern, yaitu kecelakaan Sakuragicho pada 24 April 1951.

Saat itu, kabel listrik di atas rel yang putus akibat kesalahan pemeliharaan memicu kebakaran di gerbong kereta berbahan kayu di Stasiun Sakuragicho, Yokohama. 106 orang tewas dan 92 lainnya terluka akibat kejadian itu.

Dari tragedi itulah lahir sejumlah prinsip yang hingga kini masih dipegang JR East dalam menangani insiden atau kecelakaan — salah satunya adalah tidak menyalahkan siapa pun saat sesuatu terjadi, sekecil apa pun kejadiannya. Pertanyaan pertama yang diajukan bukan "Siapa yang bertanggung jawab?", melainkan "Apa yang terjadi? Bagaimana prosesnya? Kenapa bisa terjadi?" alih-alih mencari pihak yang salah dan berpotensi mengulangi kesalahan yang sama karena akar masalahnya tak benar-benar diselesaikan.

"Kalau kita hanya bilang ke seseorang, 'Kamu yang bertanggung jawab atas kecelakaan ini. Kerjakan tugasmu dengan benar!', itu tidak membantu. Kecelakaan yang sama bisa terulang lagi di masa depan. Jadi ketika kecelakaan terjadi, dibandingkan bertanya siapa yang melakukannya, kami berusaha mencari tahu kenapa hal itu bisa terjadi," kata perwakilan JR East.

Peserta training JICA dari Dirjen Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub menghadiri kuliah yang diisi oleh stakeholder perkeretaapian Jepang Foto: Nadia Riso/kumparan

Untuk membedah akar masalahnya, JR East memakai kerangka analisis yang disebut 4M: Man (manusia), Machine (peralatan), Media (lingkungan kerja atau metode), dan Management (sistem pengelolaan). Setiap insiden atau kecelakaan akan diasesmen lewat kerangka ini alih-alih menyalahkan orang. Dalam operasional, kerangka ini juga digunakan. Sejumlah tugas yang penting sengaja tidak dirancang untuk bisa diselesaikan oleh satu petugas sendirian, sehingga selalu ada mekanisme untuk saling mengecek.

"Jadi ketika sesuatu terjadi, jangan hanya berdiam diri di kantor dan menunggu laporan. Langsung saja pergi ke tempat kejadian dan lihat bagaimana kecelakaan itu terjadi bersama semua anggota yang terlibat. Jadi ini adalah langkah-langkah yang diambil orang-orang yang belajar dari kecelakaan di masa lalu, dan kecelakaan di masa lalu membuat standar kita ditingkatkan guna menghindari kecelakaan di masa mendatang," tuturnya.

Komitmen pada keselamatan itu turut tercermin dari anggaran yang dialokasikan JR East. Dalam rencana keselamatan lima tahunan mulai dari 2024, JR East mematok investasi keselamatan senilai 1,3 triliun yen atau setara sekitar Rp 144 triliun untuk periode tersebut. Anggaran itu tetap dipertahankan bahkan saat pandemi COVID-19 menghantam industri perjalanan dan membuat pendapatan JR East anjlok.

"Saat pandemi COVID-19, pendapatan kami menurun, tapi kami tetap mengeluarkan anggaran untuk keselamatan. Investasi keselamatan kami sekitar 1,3 triliun yen," ujar perwakilan JR East.

Menurutnya, standar keselamatan yang dijaga ketat turut menjadi modal bagi JR East untuk memperluas lini usaha di luar transportasi, seperti ritel dan properti di sekitar stasiun, karena publik sudah percaya begitu saja pada standar keselamatan mereka.

"Kami bisa memperkenalkan operasional yang tidak konvensional, karena semua orang percaya kalau itu dikerjakan JR East, pasti aman. Itulah yang ada di benak warga atau pengguna kereta kami," kata perwakilan JR East.

Peserta training JICA dari Dirjen Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub menghadiri kuliah yang diisi oleh stakeholder perkeretaapian Jepang Foto: Nadia Riso/kumparan

Selain lewat anggaran, JR East juga membangun struktur keselamatan berjenjang sejak 2010. Masing-masing wilayah operasi perusahaan memiliki 17 safety professional yang ditunjuk langsung oleh CEO.

Di bawah level safety professional, ada jenjang safety expert yang setiap tahun diisi sekitar 25-27 orang usai menjalani pelatihan sekitar 10 bulan, serta junior safety yang menyasar staf muda yang tertarik pada isu keselamatan. Total ada sekitar 1.100 orang yang saat ini masuk ke dalam struktur berjenjang tersebut. Dengan begitu, keselamatan dijadikan jalur karier formal, bukan sekadar tugas tambahan yang menempel pada jabatan lain.

JR East turut memanfaatkan teknologi untuk mendukung upaya ini, misalnya lewat pemetaan risiko (risk map) yang mempertimbangkan frekuensi kereta melintas per jam, hingga pemasangan platform screen door di sejumlah stasiun. Namun, teknologi ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti kesadaran manusia terhadap risiko di lapangan.

Lebih lanjut, JR East mengatakan standar keselamatan yang diyakini oleh penumpang dan operator berbeda. Jika penumpang menilai keselamatan berarti tidak ada kecelakaan sama sekali, maka bagi operator seperti JR East, keselamatan selalu datang dengan berbagai risiko.

"Sehingga keselamatan yang kita miliki saat ini merupakan hasil dari kekhawatiran banyak orang. Desainer dari konstruksi ruangan ini, misalnya, mereka melakukan banyak tindakan penanggulangan terhadap kejadian darurat. Keselamatan berarti kebebasan dari risiko yang tidak dapat diterima. Itu adalah definisi keselamatan," ujar perwakilan JR East.

"Tapi seperti yang Anda ketahui, apakah tidak ada kondisi di mana tidak ada risiko sama sekali? Itu tidak ada. Keselamatan yang absolut tidak mungkin, tapi ada risiko yang dapat terjadi dan dapat kita kontrol. Sehingga risiko itu dapat dikontrol secara baik," lanjutnya.