Kumparan Logo

Ini Investasi yang Menguntungkan Saat Rupiah Sedang Melemah

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Uang dolar dan rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang asing/money changer. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Uang dolar dan rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang asing/money changer. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Akhir-akhir ini tekanan terhadap rupiah semakin besar. Mengutip data perdagangan Reuters, Kamis (11/10), dolas AS dibuka di 15.198 dan terus mencapai posisi tertinggi pada kisaran Rp 15.255.

Di saat seperti ini, investasi apa yang paling tepat dan aman?

Analis Ekonomi BNI Sekuritas Ronny P Sasmita mengatakan, ada tiga pilihan instrumen investasi yang menguntungkan saat kondisi rupiah melemah. Ia menyebutkan tiga instrumen investasi tersebut, antara lain deposito, Obligasi Ritel (ORI) dan reksa dana.

"Pertama yang jelas deposito karena suku bunga mulai naik, yang kedua obligasi ritel itu karena dia di backup oleh negara risikonya lebih sedikit," ucapnya kepada kumparan, Jumat (12/10).

Sebagai informasi deposito atau yang sering juga disebut sebagai deposito berjangka, merupakan produk bank sejenis jasa tabungan yang biasa ditawarkan kepada masyarakat.

Sementara Obligasi Negara Ritel atau Obligasi Ritel Indonesia (ORI) adalah obligasi negara yang dijual kepada individu/perseorangan Warga Negara Indonesia melalui agen penjual dengan volume minimum yang telah ditentukan.

Selain itu, Ronny juga menyarankan kepada generasi milenial untuk mencoba investasi melalui instumen reksa dana.

Ilustrasi investasi. (Foto: Stevepb via Pixabay (CC0 Public Domain))
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi investasi. (Foto: Stevepb via Pixabay (CC0 Public Domain))

"Reksa dana itu juga bisa. Misalkan sekian persen di saham atau obligasi itu kan yang melakukan mixing itu manager investasi. Mereka yang akan mengaturnya," lanjutnya.

Terakhir untuk investasi fisik, Ronny tetap masih menyarankan untuk membeli emas batangan. Lantaran harga emas yang cenderung naik dari tahun ke tahun.

"Bukan emas value, atau emas digital," tutupnya.