Ini Rencana Kinerja PT Timah Pasca Kasus Korupsi di Kejagung

Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk (TINS), Abdullah Umar mengatakan pihaknya optimis tata kelola timah di Indonesia akan jauh lebih baik, dan itu akan berdampak positif pada kinerja perusahaan.
Adapun buntut kasus korupsi tata niaga komoditas timah di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah Tahun 2015-2023, Kejaksaan Agung (Kejagung) akhir April lalu menjerat lima orang tambahan. Total sudah ada 21 orang tersangka dalam kasus ini.
Abdullah meyakini upaya penegakan hukum yang sedang dilakukan Kejaksaan saat ini diharapkan menjadi implikasi positif terhadap tata kelola pertambangan timah di Indonesia. Perbaikan tata kelola dan bisnis komoditas timah diharapkan dapat terus memberikan kontribusi optimal bagi masyarakat dan negara.
"Penegakan aturan tentunya memberikan dorongan yang penting untuk menyelamatkan aset bangsa yaitu bijih timah. Dengan ekosistem bisnis pertimahan yang sehat, kita optimis terhadap keberlanjutan bisnis pertambangan timah ke depan," kata Abdullah dalam rilis resmi, Rabu (8/5).
Hari ini, PT Timah sebagai Anggota Holding Grup MIND ID telah menggelar RUPS Tahunan 2023 dan memperlihatkan performa yang belum menggembirakan karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kondisi ekonomi global dan domestik yang belum membaik, lemahnya permintaan logam timah global ditengah aktifitas penambangan tanpa izin berdampak pada kinerja.
Pada tahun kerja 2023, TINS membukukan pendapatan sebesar Rp 8,4 triliun, EBITDA sebesar Rp 684,3 miliar dan rugi tahun berjalan sebesar Rp 449,7 miliar.
"Menurunnya kinerja keuangan PT Timah tentu saja akan berdampak pada penurunan kontribusi terhadap pajak dan PNBP," kata Abdullah.
Sedangkan menatap tahun 2024 ini, upaya perbaikan tata kelola timah yang dilakukan pemerintah berdampak baik pada kinerja, hal ini dibuktikan dengan performa bisnis pada kuartal I tahun 2024, PT Timah berhasil membalikkan keadaan dari merugi di tahun 2023 menjadi laba di kuartal I tahun 2024.
Pada kuartal pertama tahun 2024, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 2,06 triliun dan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 29,55 miliar.
Indikator keuangan perseroan juga menunjukkan hasil yang baik, terlihat dari beberapa rasio keuangan penting di antaranya Quick Ratio sebesar 23,2 persen, Current Ratio sebesar 143,5 persen, Debt to Asset Ratio sebesar 50,3 persen, dan Debt to Equity Ratio sebesar 101,4 persen.
Abdullah bilang, seiring dengan perbaikan tata kelola timah di Indonesia ini juga memberikan dampak positif terhadap proses bisnis PT Timah.
“Perseroan terus mendorong perbaikan tata kelola pertimahan dengan gencar melakukan pengamanan aset dan penegakan aturan serta kerja sama penambangan rakyat untuk mereduksi penambangan tanpa izin di wilayah konsesi pertambangan, Alhamdulillah Produksi PT Timah menunjukkan tren peningkatan sekitar 40 persen hingga 50 persen di awal tahun ini," pungkasnya.
