Kumparan Logo

Investasi Data Center di RI Diproyeksi Tembus USD 20 M, NVIDIA Jajaki di Batam

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Universitas Negeri Semarang (Unnes).  Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Foto: Dok. Istimewa

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap besaran potensi investasi pusat data atau data center di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa potensinya kini mencapai USD 20 Miliar.

Kapasitas pusat data yang beroperasi mencapai 600-700 megawatt dengan proyek dalam pipeline mencapai 1,3 gigawatt dengan perkiraan nilai investasi sebesar USD 15 sampai 20 miliar. Untuk itu penguatan infrastruktur dilihat harus menjadi fokus.

“Dari sisi infrastruktur, Menko Airlangga menekankan bahwa kunci pengembangan pusat data terletak pada ketersediaan lahan, listrik, dan air,” kata Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto dalam keterangan tertulis, Minggu (18/10).

Saat ini NVIDIA juga tengah menjajaki investasi pusat data sebesar USD 4,5 miliar atau sekitar Rp 80,1 triliun) di KPBPB/FTZ Batam. Saat ini, hal itu masih dalam tahap pembicaraan.

Untuk mendukung ekosistem digital, di tingkat kawasan saat ini Indonesia telah menyelesaikan perundingan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang ditargetkan akan ditandatangani bersamaan dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN pada bulan November 2026 di Filipina.

CEO Nvidia Jensen Huang berbicara dalam pertemuan internal perusahaan di lahan kavling T17 dan T18 mereka di Shilin-Beitou Technology Park di Taipei, Taiwan, Rabu (27/5/2026). Foto: I-HWA CHENG/AFP

“Ratifikasi ASEAN DEFA ditargetkan selesai dalam 180 hari setelah penandatanganan dimaksud. Kajian Boston Consulting Group memperkirakan pertumbuhan ekonomi digital di kawasan ASEAN melalui implementasi DEFA dapat meningkat dari USD 1 triliun menjadi USD 2 triliun pada 2030,” ujarnya.

Di sisi lain, Indonesia memproyeksikan nilai e-commerce Indonesia tumbuh lebih dari 14 persen menjadi USD 71 miliar sehingga menjadi pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara.

Pemerintah menarget transaksi e-commerce melalui Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) mencapai Rp 10 triliun pada akhir 2026. Angka itu naik 10 persen dari Rp 36,4 triliun pada 2025.

Tak sampai situ, Indonesia juga tengah melakukan kerja sama internasional di bidang AI melalui World AI Collaboration Organization (WAICO) uang diperkirakan menarik investasi sebesar USD 8-12 miliar pada 2026-2030.

instagram embed