Kumparan Logo

Investasi di RI, Huayou Pastikan Beri Dampak ke Ekonomi-Masyarakat Lokal

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Zhejiang Huayou Cobalt. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Zhejiang Huayou Cobalt. Foto: Shutterstock

Perusahaan asal China, Huayou Cobalt, memastikan akan memberi dampak ke Indonesia dari investasi yang dilakukan. Salah satu aspek yang menjadi fokus adalah aspek keberlanjutan.

Huayou Group telah menggelontorkan investasi senilai USD 8,8 miliar atau sebesar Rp 143 triliun (kurs Rp 16.326 per dolar AS) di Indonesia hingga saat ini. Salah satu dampak di aspek keberlanjutan dari Huayou diimplementasikan melalui kerja sama dengan United Nations Global Compact (UN Global Compact).

Kerja sama tersebut meliputi bidang pendidikan, kesehatan, sanitasi, ketenagakerjaan, pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM), sosial budaya, lingkungan, dan infrastruktur lokal.

"Sejalan dengan semangat 'Prakarsa Sabuk dan Jalan', Huayou berprinsip bahwa di mana pun kami berinvestasi, kami harus berkontribusi pada ekonomi dan masyarakat lokal," kata Senior Vice President Huayou Cobalt sekaligus Presiden Huayou Indonesia Nickel Industry Group, Gao Baojun, dalam keterangan tertulis, Minggu (1/6).

Presiden Huayou Indonesia Nickel Industry Group, Gao Baojun. Foto: Huayou

Hal tersebut juga menjadi implementasi dari Prakarsa Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative yang diluncurkan China pada 2013 lalu. Gao juga menjelaskan kerja sama ini nantinya juga bisa menjunjung kolaborasi sampai harmonisasi kebutuhan masyarakat dengan program bisnis.

“Kami akan mengembangkan program pemberdayaan yang inklusif dan berkelanjutan," lanjutnya.

Percontohan dari inisiatif ini akan dimulai di sekitar Kawasan Industri Huayou Cobalt Indonesia untuk mengembangkan solusi mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

Sebelumnya Menteri Investasi Rosan Roeslani menjelaskan salah satu bagian penting dari rencana ini adalah pembangunan kawasan industri baru di Pomala, Sulawesi Tenggara. Rencana ini mengadopsi pendekatan serupa dengan model kawasan industri yang telah berhasil dibangun sebelumnya di Morowali dan WDAB.

Ke depan, perusahaan tersebut berencana memperluas kiprahnya secara signifikan dengan menambah investasi yang diproyeksikan mencapai USD 20 miliar atau Rp 335 triliun.

instagram embed