Investasi Hilirisasi 75,7% di Luar Jawa, Ekonomi Sulawesi-Maluku Double Digit

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan investasi hilirisasi di Indonesia hingga saat ini telah banyak yang terkonsentrasi di luar Pulau Jawa.
Dia mencatat, porsi investasi hilirisasi di luar Jawa mencapai 75,7 persen, sejalan dengan lokasi sumber bahan baku mineral yang sebagian besar berada di luar Jawa.
“Jadi itu yang mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Sulawesi ataupun di wilayah Maluku dan Papua bisa bergerak double digit,” sebut Airlangga dalam acara Downstream Insights 2026 di Graha CIMB Niaga, Jakarta Selatan, Selasa (6/10).
Dia membeberkan, investasi berbasis nikel di Sulawesi Tengah tercatat mencapai Rp 56,1 triliun, sedangkan di Maluku mencapai Rp 53,9 triliun. Investasi itu turut menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Sebagai contoh di Maluku Utara, jumlah pekerja nya pun sudah lebih dari 25.000 di salah satu kawasan,” lanjut Airlangga.
Realisasi investasi hilirisasi pada semester I 2026 secara keseluruhan tercatat sekitar Rp 300 triliun, meningkat sekitar 6,9 hingga 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka itu capai 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional.
Dampak hilirisasi juga terlihat dari peningkatan nilai ekspor produk nikel. Airlangga menyebut nilai ekspor komoditas tersebut pada tahun lalu mencapai sekitar USD 34 miliar, meningkat hampir 30 kali lipat dibandingkan 2016 yang hanya sebesar USD 1,3 miliar.
Kemudian, hilirisasi juga mulai memberikan dampak pada komoditas berbasis sumber daya alam terbarukan. Produk turunan kelapa sawit telah mencapai nilai ekspor sekitar USD 208 miliar. Sementara itu, ekspor produk kelapa yang sebelumnya telah lebih dahulu dikembangkan melalui hilirisasi tumbuh hampir 50 persen menjadi USD 2,39 miliar pada 2025.
“Nah, ini tentu kita juga melihat bahwa hilirisasi bukan hanya mineral, tetapi komoditas-komoditas sumber daya yang renewable juga,” kata Airlangga.
